Senin, 16 Juli 2012

Jalan Braga, Riwayatmu Kini


Bangunan Tua di Braga

Suatu sore, saat saya berjalan menyusuri Jalan Braga di kota Bandung, ingatan melayang ke masa kecil. Bapak (almarhum) saya senang sekali mengajak Ibu saya dan anak-anaknya berjalan-jalan ke kawasan terkenal ini di era tahun 1970-an. 

Biasanya kami berjalan kaki menyusuri trotoarnya yang bersih dengan bangunan khas Belanda di kiri-kanannya. Tentu saja saya tidak ingat bangunan apa saja itu; usia saya masih sangat muda. Tetapi satu hal yang tidak pernah saya lupa adalah acara jalan-jalan kami selalu berakhir di Braga Permai, sebuah restoran paling bergengsi di Bandung saat itu. 

Braga Permai
Restoran yang kental dengan menu-menu Eropa terutama Belanda ini juga kondang dengan coklatnya.  Apalagi mendekati masa Paskah, coklat berbentuk telur yang besar selalu memukau mata kanak-kanak saya; ini melempar khayalan saya akan rasanya yang pasti lezat. Kue-kue coklat atau berlapis coklat mampu membuat saya menelan ludah. 

Hawaiian Queen







Saya ingat di dalam restoran juga ada kolam ikan yang cukup besar. Berjalan kesana kemari dan memandangi ikan-ikan di bawah kaki, seingat saya itu yang selalu saya lakukan sementara anggota keluarga lain menyantap hidangan.








Jalan Braga menjadi kenangan indah kembali saat sering menjadi pilihan saya dan sahabat untuk mengisi waktu di sela jam kuliah. Kami berdua menyusuri trotoar dan menikmati pemandangan di etalase toko-toko sepanjang jalannya.


Toko Buku DJAWA
                                                                          Tentu saja tidak ada yang kami beli, karena harga-harga disana masih juga tak sesuai dengan kantong kami. Namun Toko Buku DJAWA selalu menjadi pelabuhan kami. Disana kami bisa membaca buku-buku impor, mencari agenda kecil atau membeli barang lain yang terjangkau kantong.

Renta...
Dimakan tanaman












Sejak itu saya juga menyukai arsitektur bangunan di sepanjang Jalan Braga. Saya selalu berkhayal dapat mengabadikannya suatu ketika. Kini, impian saya menjadi nyata. Kamera digital yang memiliki memori "tak terhingga" membuat saya bisa merekam kenangan-kenangan masa kecil.


Sibayak di pojok jalan


Sayang, Braga kini sangat berbeda. Banyak bangunan tuanya yang sudah menghilang; lenyap dikalahkan jaman. Kalaupun masih berdiri, ia terlihat sangat renta; beberapa malah dibiarkan terlantar; ditumbuhi tanaman atau bahkan hanya menyisakan pintu gerbangnya.







Sumber Hidangan


Untunglah masih ada yang bertahan, selain Braga Permai. Ada Toko Sibayak yang menjual suvenir khas dari berbagai daerah di Indonesia. Ia tetap kokoh berdiri di sebelah Braga Permai. Kini pemiliknya adalah anak dari pemilik sebelumnya; dan ia juga bertempat tinggal di bangunan indah itu. Saya selalu ingin tinggal di bangunan tua yang berlangit-langit tinggi semacam itu. Pasti udaranya dingin walau tidak menggunakan air conditioning ya....


Sumber Hidangan, restoran yang juga sejaman dengan Braga Permai, tetap bertahan. Sayangnya baik luar bangunan maupun kondisi dalam ruangannya sama rentanya. Peralatan tokonya pun tampak tua. Roti tawar yang terkenal dulu masih tetap nikmat, demikian pula kue-kue Belandanya. Kattetongen atau kue lidah kucing, sudah tergerus jaman: makin kecil dan menteganya berkurang. 

Old & New Building
Sugar Rush

Selain itu ada pula restoran atau kafe masa kini yang menempati bangunan tua di Braga. Misalnya Sugar Rush; sengaja mengecat merah mencolok bangunannya. Sangat kontras dengan tetangga kiri-kanannya. Interior dalamnya eye catching dengan berbagai macam lampu hias tergantung di langit-langit, serta pajangan peralatan-peralatan kuno seperti timbangan. Kalau mau makan kue-kue yang sedang hip seperti rainbow cake atau blue velvet cake, disinilah tempatnya. 


Braga Huis


Ada pula Braga Huis, sebuah cafe untuk menikmati kopi. Dari luar bangunannya menarik dengan cat coklat berkesan suasana cowboy. Interior dalamnya pun terkesan nyaman, enak untuk leyeh-leyeh.
Asyik untuk ngopi

Lukisan Braga Tempo Doeloe







Selain untuk pejalan kaki, trotoar di Jalan Braga juga menjadi etalase penjual lukisan. Kalau ingin tahu tampang Braga jaman baheula bisa melihat lukisan-lukisan itu. Dulu, selain penjual lukisan ada juga pengamen terkenal yang selalu bernyanyi setiap malam disana. Nama aslinya entah siapa tapi ia terkenal dengan nama Braga Stone. Dia buta, tapi suaranya sangat merdu. Oh ya, dimana ya dia sekarang?
Menunggui Lukisan
Sejarah Braga



Menurut Wikipedia, awalnya Braga adalah sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik (Tjulik?) karena cukup rawan. Selain itu juga dikenal sebagai Jalan Pedati (Pedati Weg) karena sesuai peruntukannya yaitu untuk jalan pedati yang mengangkut kopi dari gudang kopi (Koffie Pakhuis) yang kini menjadi gedung Balai Kota; 1 km dari Jalan Raya Pos. Jalan setapak itu dulu lebarnya 10 meter dengan kondisi becek jika hujan. 

Best Product





Tahun 1870 menjadi tahun titik balik jalan itu menjadi kawasan elit. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak pengusaha terutama yang berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan.Toko kelontong de Vries, supermarket pertama, ikut menyumbang perkembangan Jalan Pedati menjadi Jalan Braga yang beken sebagai kawasan wisata elit. Petani Priangan (Preanger Planters) yang rata-rata berduit selalu membeli kebutuhan sehari-hari di toko itu. 

Marco




Maka ramailah daerah itu. Perlahan pembangunan hotel, restoran dan bank pun terjadi. Pada dasawarsa 1920-1930an muncul toko-toko dan butik pakaian yang mengambil model di kota Paris. Meski demikian tak ada data pasti kapan nama Braga dipakai menggantikan Pedati. Di jalan itu perlahan pedati pun ditinggalkan, berganti sepeda, sepeda motor hingga kendaraan roda empat.




Menjaga Kelestarian Braga
Graffiti
Kendati batuan jalan raya sudah diganti dengan batuan andesit, entah mengapa ketinggian jalan itu tidak rata. Apakah mark up dana atau korupsi juga sudah membuat jalanan bersejarah ini menderita? Jalan yang kini selebar hanya 7,5 meter dan sepanjang 600 meter itu tampak ruwet dengan mobil dan motor yang boleh parkir di pinggirnya. Memang jalanan tampak meriah karena berbagai alat transportasi yang berjalan perlahan; namun alangkah nyamannya apabila jalan ini tertutup saja dari kendaraan bermotor.

Bayangkan, hanya pejalan kaki, pesepeda, becak, dan pemakai sepatu roda, inline skate, skate board atau egrang saja yang boleh melalui jalan ini. Udara semakin bersih, bangunan tidak semakin rusak karena asap kendaraan dan debu akibat jalanan setiap hari dicuci oleh mobil khusus, dan wisatawan semakin senang datang kesitu. Dampaknya? Pemasukan meningkat bagi pengusaha Braga dan kas pemerintah tentunya.

Tinggal kerendahan hati para pejabat pemkot Bandung dan penduduknya sajalah yang menjadi penentu kelanggengan riwayat Braga. Mau merawat kelestariannya atau perlahan-lahan mau mengubah semuanya menjadi bangunan modern yang --biasanya-- tidak menarik!

Catatan: Tulisan ini dibuat sebelum Ridwan Kamil diangkat menjadi Walikota Bandung.
Lulusan arsitek ITB ini kabarnya banyak membawa perubahan bagi kota Bandung, termasuk tempat-tempat hits semacam Braga. Bila ada kesempatan lebih lama menginap di Bandung, saya akan mengulas kondisi jalan Braga ini di era Ridwan Kamil. Bandung euy!

Parkir Mobil





Kamis, 05 Juli 2012

Berkantor Fleksibel Ala Regus di Menara Tempo Scan



REVOLUSI dunia dalam bidang telekomunikasi dan IT terus menerus mengubah cara bekerja seseorang atau suatu perusahaan. Misalnya, perkembangan mobile phone atau smartphone yang setiap enam bulan sekali bahkan bisa lebih cepat sudah mengubah banyak sisi kehidupan; membuat bisnis semakin unpredictable, tak dapat diperhitungkan. Kemacetan lalu lintas juga membuat pebisnis semakin mobile sehingga membutuhkan perusahaan atau kantor yang fleksibel. Lalu kebutuhan akan ruangan yang siap pakai pun menjadi penting.

Kedua, dunia yang semakin global serta persaingan dunia usaha yang semakin kuat membuat para pebisnis dan entrepreneur harus semakin giat menjalankan usahanya. Terutama perusahaan mula (start-up company) yang butuh banyak hal untuk persiapan bisnisnya serta tidak ingin dipusingkan urusan pengadaan kantor dan tetek bengeknya. Mereka ini butuh solusi agar tidak berlama-lama dipusingkan urusan itu sehingga lebih fokus kepada bisnis atau pekerjaannya.

Ketiga, adanya keinginan para pebisnis untuk penghematan modal kerja seperti tidak perlu menghabiskan uang lebih banyak untuk persiapan pengadaan kantor yang bisa makan waktu berbulan-bulan. Keempat, adanya kebutuhan pebisnis di berbagai tingkat untuk memiliki kantor sendiri dan dapat bekerja dari manapun seolah dari ruang kantornya sendiri.

Hal-hal inilah yang antara lain menurut William Willems, Regional VP Regus for Australia, New Zealand dan South East Asia, yang mengubah cara kerja pebisnis di Indonesia. Regus, pemimpin dalam dunia penyediaan ruang kerja fleksibel, Rabu 20 Juni 2012 baru lalu membuka business center mereka yang kelima di ibukota Indonesia. Berlokasi di Tempo Scan Tower, di tengah kawasan segitiga emas di Jakarta, membuka kesempatan baru bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang menginginkan efisiensi yang lebih besar serta pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Para pelaku bisnis di Indonesia percaya bahwa menggunakan ruang kerja fleksibel dan kondisi kerja yang fleksibel merupakan dua insitiatif utama untuk memastikan pertumbuhan stabil, menurut laporan Regus terbaru dalam Indeks Kepercayaan Bisnis (Regus Business Confidence Index). Lebih dari satu dari dua bisnis (53%) mengatakan biaya ruang kerja yang tidak diperlukan merupakan hal utama yang membebani perusahaan saat menghadapi masa sulit.
Di saat perusahaan dari berbagai ukuran mencari inisiatif dalam bentuk ruang kerja yang fleksibel dengan pola kerja yang fleksibel, dibukanya Regus centre yang baru di Tempo Scan Tower akan memfasilitasi usaha mereka. Adanya pilihan untuk menggunakan ruang kerja yang dibayar berdasarkan pemakaian dengan lokasi di jantung kawasan niaga Jakarta memungkinkan perusahaan bekerja dimanapun, kapanpun, tanpa terikat pada harga sewa yang tinggi atas ruangan yang mungkin tidak diperlukan.

Adanya pilihan Regus business centre kelima di Jakarta ini juga memberikan fleksibilitas baru bagi pebisnis dan pekerja dalam menghadapi kemacetan lalu lintas Jakarta yang sudah terkenal ini. Dengan empat dari sepuluh pebisnis di seluruh dunia berusaha untuk mengurangi waktu yang dihabiskan staf di jalan dalam perjalanan, pilihan untuk menggunakan ruang kerja di kantor berkelas internasional yang dekat dengan rumah merupakan pilihan yang berguna bagi perusahaan yang ingin membantu staf mengurangi rasa stress dan bekerja lebih produktif.

Berlokasi dengan dengan hotel-hotel internasional dan kantor-kantor kedutaan besar, business centre Regus ini juga mudah dijangkau, tempat kerja yang bebas stress dan merupakan tempat pertemuan bagi orang-orang dalam perjalanan bisnis. Empat Regus lainnya di Jakarta ada di Menara BCA, Menara Kadin, Grand Indonesia dan Gedung Standard Chartered. Sedangkan Regus ke lima ini berada di lantai 32, Tempo Scan Tower, Jalan Rasuna Said, Kuningan.

Fasilitas business centre Regus mencakup ruang tunggu, bisnis (business lounge), kantor-kantor (serviced offices), ruang meeting, studio video communications, jaringan aman wi-fi dan akses back-up administratif multibahasa. Ada lebih dari 60 ruang kantor yang tersedia, mulai dari peruntukan 1 orang hingga lebih dari 10 orang yang bisa bekerja di unit tersebut. Ada pula cubicle, ThinkPod, yang dapat disewa dengan harga murah untuk bekerja sewaktu-waktu. Ini mencerminkan pelayanan Regus yang luas mulai dari pebisnis dengan low-budget hingga yang sudah blue-chip company.

Willems percaya dengan pengalaman Regus yang sudah 20 tahun malang melintang di bisnis ini serta tingginya permintaan akan ruang kantor fleksibel maka perusahaan asal Inggris ini dapat melayani pebisnis Indonesia maupun pebisnis luar yang ingin membuka usahanya di Indonesia dengan baik. Dalam tiga tahun ke depan Regus berencana membuka lagi 15 business centre di Indonesia. (Lily G. Nababan)

Posted by Burhan Abe at Saturday 23 June 2012 in jakartajive.com

Bali, The Land of Gods

Mengapa Bali?

Ya, karena Bali terletak di Indonesia. Mereka yang belum paham juga, silakan buka Google Map dan ketik "Bali, Indonesia". Pulau ini hanyalah salah satu pulau diantara ribuan pulau-pulau di Indonesia, besar dan kecil.

GWK
Ya, Indonesia tidak hanya Bali. Begitu banyak pulau dan daerah di tanah airku ini. Semoga segera menyusul cerita-cerita dan gambar-gambar indah dari Indonesia.









Patung Dewa Wishnu
Saat ini Bali dulu ya. Karena saya baru saja menjadi fotografer dadakan di pulau Dewata ini; walaupun memang merencanakan untuk mengabadikan pemandangan dan kekhasan pulau Bali.

Foto-foto yang tersaji tentulah sudah tidak asing lagi bagi Anda semua, bahkan mungkin angle foto dan kualitas foto Anda lebih mempesona.  Foto disusun dari hari pertama hingga hari terakhir kunjungan pada awal bulan Juni 2012. Selamat menikmati.

Tebing bagi disayat pisau @GWK
Langit di Dreamland

Pantai Padang-padang
Langit & Tebing Uluwatu
Menanti Tari Kecak kala sunset

Dewi Shinta

Padi menguning di Ubud

Souvenir at Ubud Market

Bingung memilih :)


Penjual bahan upacara @pasarUbud
Jajanan khas @pasarUbud
Sunset behind the clouds @Kuta beach

Tari Merak di Warung Made, Dps
Tanah Lot

Pura Ulun Danu
Bird & the Temple, Bratan Lake




Sunset full @Lovina
Looking for dolphins with sunrise




Mencari nafkah

Gunung Batur, Kintamani




Jeruk Kintamani, sweet & fresh

Pura Besakih, the biggest temple in Bali

Roofs, Besakih
Usai sembahyang


The Future Ngurah Rai







       



Managing funds of super-rich customers




A Kijang van pulled up in front of the BCA Asemka branch in Jakarta and modestly-dressed man alighted. Lugging a plastic bag, he rushed into the special room for VIP or private banking customers. No one would ever guess that this gentleman, who was wearing sandals, was a premium customer and could have a deposit worth billions of rupiah at this the bank.
The man -- just call him Handi Wijaya -- is an electronics merchant operating several outlets in various places, such as in Glodok, Central Jakarta. Just like many wealthy people who live by old traditions, Handi still carries hundreds of million of rupiah in cash on his person. He has only a term deposit with BCA and does not invest money elsewhere or diversify his wealth into various investment instruments.
""All kinds of investments have their risks. I don't want to take the trouble and run the risks. The profit I get from my trading activities is more than enough,"" he said.
Handi is not alone in Jakarta, or for that matter, in the whole of Indonesia. Quite a lot of premier-class people own great amounts of money, although their numbers are small in proportion to the country's entire population. At BCA alone there are some 80,000 premium customers whose accounts hold more than Rp 250 million. Meanwhile, Citibank, HSBC, BNI, Bank Mandiri and other major commercial banks each record between 10,000 and 20,000 premier bank accounts.
The potential is indeed alluring. Amid the difficult macro-economic situation we are currently experiencing, it is demanded of banks that they illustrate creativity to push forward with their businesses. Attracting premium customers is the most probable short-cut, although developing this service is not always easy. Banks must spend quite a lot of money to develop it, but they stand a good chance of increasing their earnings.
To attract premium customers, BII, for example, has launched an exclusive and comprehensive banking service package. Through its BII Platinum Access, its premium customers can feel as if they own a bank. Just pick up the telephone, send a fax or an e-mail or present yourself at any of the BII Platinum Access centers, and all your banking matters will be easily handled. This product, said Rudy N. Hamdani, managing director of consumers at BII, is the bank's latest innovative service package and manifests the bank's commitment to loyal individual customers by giving customers in the premium category (Platinum Access customers) extra and specific services. Better customer relations is the main focus of this particular service.
Thanks to this program, which up to late 2005 had 5,000 premium customers each with a minimum deposit of Rp 1 billion, BII has increased its earnings and at the same time augmented its fee-based income. Not only BII, for which this special program for super-rich customers is relatively new, but also many other banks are now offering priority banking services, which have developed into wealth management services, in their attempt to attract the super-rich. Under the wealth management service scheme, a bank not only relies on its main function as a place where customers keep their money and obtain loans but it has also developed its function to include various financial services. A number of banks offer their premium customers mutual funds or bank assurance products while other banks offer them a synthetic deposit, a swap-based investment product. This is possible because the funds of bank clients in this category are of long-term growth in character and the money can be categorized as idle. Obviously, a bank can make the management of this idle money a very attractive and lucrative business.
However, these high net-worth clients tend not to place their funds in one basket. In other words, they usually deposit their money in several banks. This means that only banks that offer the best wealth management services will have the best opportunity to manage these huge funds. In terms of products, there is a great variety of them as the category of structures products has begun to be introduced. In terms of services, the staffers of the wealth management program must serve as partners who manage the wealth of customers.


However, some people suspect that the growth of this wealth management industry is not in line with the process of education that goes with it. Many banks claim to have financial planners, but the reality is quite different. In April, for example, when there was a run on mutual funds, at the time the most popular investment product among wealth management customers, most banks suffered a big blow because the majority of the funds placed under their management were withdrawn in large amounts. This was not solely the mistake of the customers, who generally are not fully knowledgeable about this matter, but it was also the mistake of relations managers, who were short of the required skills and in-depth product knowledge.
To invest is not without risk. However, if these premium customers have too many bad experiences, it is only natural that will they deposit their money abroad, such as in Singapore.
According to Johny Djohary, a banking practitioner and member of the Financial Planning Association of Indonesia, wealthy customers often have mixed and unexpected expectations.
""That's why wealth management services must be suited to the customers' more personal needs and desires and must not simply be a matter of selling a product. Wealth management services must be geared toward comprehensive financial planning that gives a total financial planning solution to a premium customer and his family,"" he says in his analysis in Bisnis Bank magazine.
Meanwhile, William Jahnke, a financial expert from California, the U.S., refers to three main things that a bank must do in providing wealth management services. A financial and investment planning solution must first of all be analyzed and then continued to be evaluated so that it will be suitable to a customer's actual financial goals. Second, this solution must illustrate the best composition of income, spending, insurance and investment at each stage of and for the life span of a customer. Third, this solution must always be monitored and adjusted to changes in investment opportunities. It must always follow changes in macro financial and economic conditions.
In Indonesia, wealth management is indeed new but it is demanded of bankers that they adjust to this global banking trend. Ideally, wealth management services are designed as holistic financial planning, namely a comprehensive service covering almost every aspect of a customer's life.
Someone like aforementioned Handi must first of all enjoy dealing with a bank, which, in this case, would be one that shows high integrity and credibility, before being able to do more with the money he deposits at a particular bank. (Lily G. Nababan, Contributor)

The Jakarta Post, Jakarta | | Tue, April 25 2006, 10:47 AM