Kamis, 24 Oktober 2013

Berburu Matahari Terbit Hingga Blusukan ke Dapur Gudeg

Seri 2 MomDaughter's Backpacker

Dieng Plateau

Ke Dieng
Dieng terletak di ketinggian sekitar 2000 meter diatas permukaan laut. Sering disebut-sebut sebagai dataran tinggi berpenghuni tertinggi kedua setelah Tibet, maka pantas jika dijuluki atapnya pulau Jawa.
Letaknya 30 km dari Wonosobo, tepatnya di perbatasan kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonosobo. Karena letaknya di tengah wilayah Jawa Tengah, Dieng hampir sama jaraknya apabila ditempuh dari Jogja di bagian selatan maupun dari Semarang di bagian utara. Kabarnya kalau naik kendaraan menghabiskan waktu sekitar 3 sampai 5 jam. Transportasi bisa dengan bis atau mobil travel diteruskan angkot kecil karena tak ada rute bis umum yang sampai di desa tertinggi itu. Jalan termudah namun makan ongkos lebih besar, bisa berbeda sekitar Rp350 ribu, adalah dengan mobil sewaan.
Komplek Candi Dieng

Wisata ke Dieng sudah saya rencanakan sejak dari Jakarta. Agar wisata lebih nyaman bagi dua perempuan seperti saya dan anak remaja saya, maka kami menggunakan jasa travel. Sayangnya tidak ada paket wisata yang cocok dengan bujet kami. Saya sempat browsing dan menyusun sendiri rencana mulai dari transportasi menuju Dieng dari Semarang, penginapannya, peminjaman kendaraan untuk ke tempat-tempat wisatanya hingga perjalanan pulang dari Dieng ke Jogja. Saya juga menelepon ke beberapa tempat penginapan disana dan mendapat keterangan tambahan tentang warung makan, sewa motor, cara menuju bukit Sikunir dan lain-lain. Hasilnya: semua tidak pasti dan tidak nyaman. Kalau saya berangkat sendiri mungkin tidak masalah. Saya bisa berpetualang ala mahasiswa. Tapi saya mengingat akan anak remaja saya yang walaupun mudah diajak hidup susah tapi riskan kalau kami hanya berdua perempuan harus naik angkot dari Wonosobo jam 4 sore menuju Dieng.

Masalahnya adalah ada jalan yang sedang dalam perbaikan di antara Wonosobo dan Dieng. Akibatnya, semua kendaraan harus memutar lewat Banjarnegara. Artinya, semula hanya makan waktu 20 menit ke desa, kini menjadi 3 jam! Lalu saya mengarang sendiri untuk naik bis, turun di gardu pandang lalu jalan kaki menyeberangi jalan rusak tersebut dan dijemput staf penginapan di seberang. Penginapan bersangkutan sudah setuju. Lalu saya terpikir hal bagaimana kalau kemalaman di jalan dan saya harus berjalan membawa satu koper kecil, satu ransel dan menggandeng anak perempuan saya yang bawa ransel kecil? Lalu kami naik motor masing-masing dengan staf penginapan karena kalau pakai mobil lebih mahal. Wow!

Akhirnya saya menyerah dan menelepon jasa travel pertama. Saya mengajukan paket yang saya 'jahit' sendiri yaitu tidak dijemput ke Semarang melainkan bertemu di Wonosobo, agar biaya mobil Rp 400 ribu bisa terpangkas. Dari Wonosobo lanjut ke Dieng, menginap semalam, besoknya ke 5-6 tempat wisata, dan sekitar jam 2 atau 3 siang diantar ke Wonosobo lagi. Mungkin karena tidak tega mengetahui calon kliennya perempuan dari kota yang jauh, hehehe... si operator malah memberikan harga yang relatif murah untuk paket yang saya ajukan tersebut ditambah diantar ke Jogja dari Dieng. Wah, surprais banget!

Petani Bawang dan Kentang
Sayangnya, saya tidak memperhitungkan bahwa harga paket yang murah itu adalah menggunakan mobil carry yang sungguh sudah bobrok penampilan dalam dan luar. Walaupun mesinnya masih kuat tapi saya rasa doa yang kencang lah yang membuat mobil bisa sampai ke Jogja akhirnya. Untung pula guide dan sopirnya baik dan ramah sehingga kekecewaan karena mobil bobrok itu agak terobati.

Di Semarang sungguh sulit berbicara dengan para operator mobil travel. Tarifnya memang wajar per orang, antara Rp50-70 ribu namun tidak memudahkan bagi yang bukan penduduk Semarang atau berasal dari Jawa Tengah. Atas saran beberapa orang akhirnya saya coba Cipaganti Travel yang saya tahu sekali pelayanannya untuk trayek Jakarta-Bandung cukup baik. Tanpa banyak perdebatan dan keterangan, saya berhasil booking 2 kursi terakhir pada jam 12 siang dan akan dijemput di hotel. Lumayan kan, daripada naik becak dengan bawaan saya. Taksi di Semarang agak sombong. Kalau jaraknya dekat mereka tidak mau narik. Sedangkan tukang-tukang becaknya ramah dan baik hati.

Mie Ongklok
Singkat kata, perjalanan dari jam 12 siang akhirnya baru benar-benar dilakukan pada jam 1 karena penjemputan kesana-sini plus mengantar seorang penumpang travel ke Jogja yang ditinggal mobil travelnya. Sopir nyentrik yang pintar ngebut, irit bicara tapi sering berteleponan sambil mengemudi, dan jalan raya yang lebih banyak yang rusak walaupun sudah mengambil jalur pintas, serta mengaso 30 menit di jam yang bukan makan siang akhirnya membawa kami sampai di taman kota Wonosobo pada sekitar jam 5 sore. Disana sudah menunggu guide dan supir travel kami untuk ke Dieng. Sebelum menuju Dieng saya minta mampir ke mie ongklok khas Wonosobo yang terkenal itu, nama tempatnya Mie Longkrang.

Makanan mie ongklok adalah salah satu makanan khas Wonosobo. Ada beberapa warung mie ongklok di kota ini, tetapi yang paling terkenal memang warung milik Waluyo ini. Letaknya di Jalan Pasukan Ronggolawe no. 14. Tempatnya sederhana, berupa rumah lama dengan tempat duduk kayu panjang dan meja untuk di halaman rumah. Dapurnya ada di teras rumah, dan pengolahannya bisa langsung dilihat pembeli.

Mie ini sebenarnya biasa saja, mirip lomie, makanan khas di Bandung. Semangkuk mi basah biasa ditambah kol dan kucai yang dicampur bumbu kacang lalu diguyur kuah kental bernama kuah jenang. Kuah ini terbuat dari gula jawa, ebi, pati serta rempah-rempah yang diolah. Setelah bumbu kacang dan kuah jenang dicampur lalu diongklok (diaduk, bahasa Jawa), dibubuhi kecap manis, merica dan bawang goreng. Sebagai penambah kenikmatan, pemilik warung menawarkan lauk pendamping yaitu sate sapi, tempe kemul dan aci goreng. Harganya sangat murah untuk kantong orang Jakarta yaitu Rp5.000 per porsi mie ongklok, dan Rp 15.000 per satu porsi sate isi 10 tusuk. Lho, lebih mahal satenya? "Iya mbak, harga daging kan naik terus," kata pelayan warung.
Mie Ongklok asal Wonosobo yang hits

Rasanya? Maknyus pastinya. Kami berdua makan masing-masing satu mangkuk mie yang panas. Tempe dan aci gorengnya terlihat tidak segar, jadi kami hanya menambah sate 5 tusuk saja. Murah meriah, nikmat dan cukup mengenyangkan. Maka perjalanan selanjutnya dapat dilanjutkan dengan nyaman.

Untunglah kami sempat mampir di mie ongklok, karena makan malam sebenarnya hampir saja tidak jadi. Akibat rute memutar kami harus mencari makanan di kota kecil sebelum Dieng. Entah kota apa tetapi pada sekitar jam 8 malam sampai disana sudah tidak ada lagi restoran yang buka. Satu-satunya yang masih buka dan tampak bersih adalah warung si Gondrong. Pria berambut panjang sepinggang itu yang langsung memasakkan pesanan kami: nasi goreng pakai telur, karena ayam juga sudah habis.
Pepaya Mini (Carica),
hanya ada di Dieng
Anak saya agak pemilih pada makanan, walaupun makan di warung dia harus merasa enak. Syukurlah, nasi goreng si Gondrong ini lezat dan tidak berminyak. Porsinya lumayan dan kami habiskan. Teh panasnya juga legit, rasa tehnya khas kota-kota kecil. Lekat dan wangi. Dan semuanya itu hanya menghabiskan Rp 25 ribu perak saja. Satu porsi nasi goreng hanya Rp 10.000 kalau pakai ayam. Tuhan memang baik. Makanan kami tercukupi dengan sehat dan enak, sehingga perjalanan yang masih lama ke Dieng bisa kami nikmati tanpa kelaparan.

Tanaman Kentang
Jalan raya yang gelap disertai hujan yang sebentar deras sebentar perlahan plus truk atau bis yang kadang tidak mau mengalah sebenarnya membuat perjalanan agak berbahaya. Tetapi dengan perlindungan Tuhan YME kami dapat sampai di Dieng sekitar jam 10 malam. Kami langsung diantar ke penginapan berupa rumah tinggal yang disulap menjadi guest house yang cukup baik dan bersih. Seperti info di internet, kamar mandi kami pun mempunyai air panas. Jam 11 malam saya  mandi dengan air hangat karena tidak tahan dengan badan yang lengket-lengket akibat keringat dan debu sejak Semarang.

Matahari Terbit dari Sikunir
Sejak awal pembicaraan dengan pihak travel guide, saya sudah merancang apa saja yang akan saya nikmati dan kunjungi selama di Dieng. Karena itu walaupun sangat lelah malam itu juga saya mempersiapkan pakaian dan barang yang akan dibawa untuk melihat matahari terbit (sunrise) esok pagi. Akibat takut terlambat bangun, saya malah terbangun setiap satu jam. Akhirnya jam 3 pagi saya benar-benar bangun dan bersiap-siap.
Sunrise dalam awan kelabu
Kami berangkat hampir jam 4, dan itu menurut saya agak terlambat. Saya sudah siap dengan irama berjalan anak saya sehingga agak khawatir terlambat melihat sunrise. Untuk menuju bukit Sikunir kami naik mobil dahulu hingga batas jalan berakhir. Namun beberapa ratus meter sebelum berakhir jalan kami terhalang panggung yang tampaknya dipasang untuk pesta esok hari. Penduduk memasang panggung begitu saja di jalan desa, akibatnya kami harus meninggalkan mobil dan berjalan kaki lebih awal.

Gunung Sindoro disapa pagi
Sebenarnya kondisi jalan dan jaraknya tidak sulit. Mungkin kalau pakai sepatu kets saya bisa berlari kecil. Pendakian ke bukit juga tidak melelahkan karena jalan setapaknya baik, tidak curam, ada pegangan di tempat yang licin dan cuaca dinginnya masih bisa diterima tubuh. Namun untuk anak saya yang jarang sekali berjalan di alam bebas, pendakian itu tampaknya melelahkannya. Terdengar nafasnya yang terengah-engah dan sempat meminta air minum. Sebelum pukul 5 pagi kami sudah sampai di bukit Sikunir yang rendah.

Guide kami menyarankan berhenti disitu saja. Ia khawatir kalau naik ke puncak yang lebih tinggi malah tidak keburu melihat sunrise karena masih berjalan naik. Ego saya sendiri ingin mendaki ke puncak yang lebih tinggi karena kabarnya pemandangannya lebih luas dan seperti ada di atas awan. Namun kondisi anak saya yang kelelahan mengurungkan niat saya. Ini adalah liburan untuknya, jadi saya sudah bertekad memberikan apa yang nyaman baginya.

Kami berdua duduk di bebatuan, menghadap ke bentangan gunung-gunung tinggi dan lansekap kota di bawahnya yang masih biru gelap. Ibu dan anak yang jarang bepergian berdua saja ini mengobrol sambil menggigil kedinginan. Kamera sudah disiapkan, bahkan anak saya sudah mulai membidik kesana sini. Dia memang punya sense of photography jauh lebih baik dari saya. Siluet gunung Sindoro, gunung Sumbing yang bersembunyi di belakangnya, dan dua gunung lain yang lebih jauh menambah kemisteriusan ciptaan Tuhan. Terlihat pula kerlap kerlip sinar senter di dekat puncak Sindoro. Hmm... beberapa pendaki gunung sedang mencoba mencapai puncak Sindoro rupanya. Mendadak saya rindu mendaki gunung.
Bulan kesiangan

Saat melihat awan-awan gelap, saya sudah siap akan menyaksikan terbitnya matahari yang tidak golden seperti biasa dipromosikan di internet. Benar saja. Perlahan matahari muncul namun warnanya tidak kuning emas, tetapi jingga. Semburat warnanya menyebar ke berbagai arah. Keindahannya memukau, membuat kami berdua hanya bisa berdecak kagum sambil terus mengabadikan melalui kamera. Bulan penuh mengapung tinggi di atas kepala kami. Semoga foto-foto di halaman ini dapat menggambarkan keindahan sunrise di Sikunir.
My Sunshine <3

Usai menyaksikan matahari terbit guide kami menyarankan agar pulang ke penginapan untuk sarapan. Namun saya mengusulkan untuk melihat Telaga Warna mumpung hari masih pagi. Bagi penggemar fotografi bidikan terbaik justru di pagi hari seperti saat ini. Sebelum jam 7 pagi kami sudah sampai di Telaga Warna yang jaraknya memang cukup dekat dari Sikunir. Usul saya sangat tepat, karena suasana di sekita Telaga Warna masih sangat sepi. Keadaan ini menguntungkan kami sehingga dapat mengambil foto-foto pemandangan tanpa gangguan orang lain. Inilah pertama kalinya saya melihat danau yang permukaan airnya meletup-letup tanda aktif danau vulkanik.
Letupan-letupan kecil di Telaga Warna
Kami berjalan memutari danau sambil melihat beberapa patung, dan menjumpai spot foto yang cantik yaitu pemandangan tepi danau yang tampak simetris dengan bayangannya di danau karena sinar matahari yang pas. Di kawasan yang sama, bersebelahan dengan Telaga Warna, terdapat Telaga Pengilon yang artinya cermin. Kata guide kami, dinamakan demikian karena airnya sangat bening sehingga bisa bercermin. Akibat musim hujan di bulan kemarau ini maka air danau sangat keruh.
Embun di atas padang ilalang


Namun lapisan kabut yang melayang di atas ilalang di pinggir danau dengan titik-titik embun di helai daun ilalang sangat memukau. Tambahan lagi, udara segar di kawasan ini sungguh menyegarkan paru-paru yang sudah lelah dengan udara Jakarta.

Menu sarapan pagi kami berupa nasi goreng plus telor mata sapi khas Dieng plus kerupuk. Kata anak saya inilah nasi goreng terenak yang pernah ia makan. Agak lebay memang, mungkin saking kelaperannya dia. Usai sarapan dan packing barang kami mengunjungi situs-situs bersejarah berupa candi-candi. Di kompleks candi sedang ada persiapan Dieng Culture Festival. Matahari yang menyorot terik berpadu dengan udara dingin membuat wisata kami tidak terasa melelahkan, hanya membuat kulit gosong :D

Telaga Warna
Kalau ke dataran tinggi Dieng tidak sah apabila tidak melihat kawah Sikidang. Terbiasa melihat kawah di gunung Tangkuban Perahu yang jauuuuh di bawah dan kolam-kolam magmanya yang terpisah-pisah membuat saya terkagum-kagum dengan kawah disini. Sekitar kawah hanya dibatasi pagar kayu, dan kita bisa melihat jelas magma di kawah yang berwarna abu-abu dan meletup-letup dengan asap di atasnya. Persis kompor raksasa. Sungguh beruntung kita punya Sikidang. Kabarnya kawah ini dinamakan Sikidang (Kijang) karena "melompat" dari lokasi sebelumnya yang terletak lebih ke bawah, ke arah pintu masuk. Hebat.

Kawah Sikidang
Kunjungan singkat ke Museum Kailasa sangat berguna bagi kami untuk memahami Dieng seutuhnya. Salut pula pada petugas museum yang tetap memutarkan film tentang Dieng Plateau walau penontonnya hanya saya dan putri saya. Keluar dari museum kami langsung 'jajan' french fries khas Dieng yang terkenal dengan kentangnya, dan jamur goreng. Belakangan saya menyesal karena menurut teman saya hampir 90% tanaman kentang di Dieng menggunakan pupuk kimia yang berlebihan.
Tuk Bima Lukar

Sebelum meninggalkan Dieng, kami mengunjungi situs mata air purba bernama Tuk Bima Lukar yang dipercaya sebagai ramuan awet muda. Saya tidak seputus asa itulah sehingga mau saja mencuci muka disana. Cukup dengan memotretnya saja sudah terasa saya semakin muda. Hahaha. Mata air ini terletak di kanan jalan gapura masuk Dieng. Ini adalah hulu dari sungai Serayu yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di Dieng. Kalau kelak kaki saya terlihat lebih muda dari umur saya maka itu akibat mencuci kaki di Tuk Bima Lukar.
Jalatunda


Terakhir kami mengunjungi sumur Jalatunda yang konon sangat misterius. Sumur yang lebih seperti danau kecil dikelilingi semak belukar ini tidak diketahui dalamnya dan tidak ada yang berminat pula mengukurnya, mungkin karena berbagai kisah mistik seputarnya. Konon pernah ada lelaki yang begitu saja berjalan ke pinggir sumur dan melompat ke dalamnya. Bagaimana dia bisa berjalan kesini, itu pertanyaan saya. "Biasanya orang ini dituntun oleh suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri," ujar guide kami. Oh, okay. Saya tidak pernah percaya kisah-kisah seperti ini, namun kearifan lokal beginilah yang biasanya melindungi keindahan di balik suatu keajaiban alam. Siapa tahu ada emas atau barang tambang lain di dalam sumur kan? Kalau digali mungkin bisa menambah kekayaan desa ini atau malah merusak lingkungan sekitarnya. Hmm..

Yogyakarta dan Solo
Yogyakarta sangat tidak ramah kali ini dibanding dengan kota Solo. Namun keramahtamahan teman lama saya, mbak Diding, membuat kami agak kerasan. Malam pertama di Jogja kami menginap di rumahnya yang hanya 5 menit berjalan kaki dari stasiun KA Tugu. Rumah yang terhitung berusia tua ini berudara sejuk menjadi pelabuhan kami dari hawa Jogja yang agak panas. Lokasinya menguntungkan untuk memesan tiket ke Solo dan Jakarta serta mencari makanan.

Malam kedua kami menginap di hotel Pop! yang baru di kawasan Tugu. Hotelnya bersih, sarapannya lezat dan ringkas karena berupa nasi + lauk dibungkus daun. Namun karena Jogja penuh oleh turis domestik dan tukang becaknya jarang yang ramah, maka kami bersyukur sudah merencakan perjalanan ke Solo.

Seni di Malioboro
Kami berangkat ke Solo menggunakan kereta api berAC yang tarifnya Rp100ribuan di pagi hari. Penjual tiket seperti tak tega dan menawarkan tiket yang lebih murah karena perjalanannya hanya satu jam katanya. Dia tidak mengerti kalau kami ingin masih segar sampai di Solo yang wisatanya pasti makan tenaga. Seperti juga di Semarang dan Jogja, kami menggunakan jasa abang becak untuk mengunjungi tempat-tempat wisatanya. Segera saja kami berdua jatuh cinta pada Solo. Mungkin karena mengetahui Gubernur DKI kami yang baru dan hebat, Jokowi, itu berasal dari Solo ya.

Apa yang dibuat Jokowi di Jakarta kami jumpai di Solo. Kursi-kursi taman di trotoar. Jalanan bersih tanpa sampah. Trotoar yang lebar dan rapih. Lampu-lampu jalan. Street art. Satu hal yang belum dibuat Jokowi di Jakarta tapi ada di Solo. Fasilitas charger telepon selular di stasiun kereta api Solo Balapan. Sayang, kami tidak sempat memotretnya. Andai tersedia pula di Gambir, hidup akan terasa lebih indah. Betul tidak teman?

Kunjungan kami ke Solo yang dari jam 9 sampai 4 sore sangat berkesan. Selain mengunjungi istana Mangkunegaran Solo di tengah rinai hujan, kami juga melihat-lihat berbagai barang antik menarik di Pasar Triwindu. Menurut saya obyek foto yang unik dan menarik salah satunya adalah suasana dan aneka barang dagangan di sebuah pasar.

Desa Kauman
Di Triwindu kita bisa menemukan barang antik yang bagus maupun sekedar rantang kaleng, setrika ayam, gerendel pintu kuno, piringan hitam, tea set dengan motif bunga-bunga yang saya ingat ada di rumah almarhum nenek di Bandung, dan macam-macam lagi. Kami puas memotret di pasar ini, walaupun tidak membeli satupun barang karena memang tidak butuh.

Obyek wisata lain yang menarik, diluar berbelanja batik di Pasar Klewer, adalah kampung batik Kauman. Di kawasan ini terdapat rumah-rumah yang berdempetan dengan arsitektur kuno di sepanjang jalan-jalan kecilnya. Kadang-kadang becak melintas berisi orang membawa tumpukan kain atau baju batik. Suasana sepi siang itu. Kami seperti memasuki ruang waktu silam. Sayangnya, tidak ada lagi pengrajin batik di rumah-rumah ini. Kabarnya, semua sudah terpusat di salah satu rumah batik terbesar yang tidak mengundang selera kami berbelanja karena barang-barangnya tidak terlalu bagus serta harganya relatif mahal.

Membatik di Kain
Tetapi di rumah batik itulah kami dapat menyaksikan orang mengerjakan proses pengerjaan kain batik. Mulai dari proses batik celup, batik printing, batik tulis, penjemuran kain batik yang sudah dimotif, dan alat-alat pencelupannya. Untuk anak saya ini adalah hal yang sama sekali baru. Kalau membatik di kain sudah pernah ia lakukan saat usia SD. Kunjungan seperti kami ini memang menjadi bagian dari paket wisata di Solo, termasuk belajar membatik tulis.

Kembali ke Jogja kami disambut keramaian tiada tara akibat kunjungan berbagai sekolah karena memang saat ini sedang libur panjang sekolah-sekolah di berbagai kota. Demi selera anak saya yang "tidak mainstream" maka saya merelakan untuk tidak mengunjungi tempat-tempat semacam keraton, candi-candi dan sebagainya. Selain memang anak saya baru saja mengunjunginya pada tahun lalu, juga karena enggan membayangkan keramaian tempat-tempat tersebut. Kayak cendol, kata anak saya.

Dapur Sejak Dahulu Kala
Sebaliknya saya mencoba mengasah jiwa entrepreneur anak saya dengan mengajaknya ke pusat gudeg Yu Jum. Inilah warung pertama Yu Jum membuka usahanya, sekaligus tempat tinggalnya. Kendati sudah terkenal dan gudegnya dikirim ke berbagai kota di Indonesia dari tempat ini, namun Yu Jum yang sudah berusia 85 tahun masih ikut bekerja di warungnya. Wanita tua yang tidak pernah pikun ini terlihat asyik merobeki daun pisang bersama pegawai-pegawainya.

Yu Jum

Waktu makan siang kami di Gudeg Yu Jum sudah terlambat, tapi rumah makan masih ramai. Pesanan gudeg dengan ayam tinggal satu porsi --memang rejeki anak saya--, semua tahu dan tempe habis. Jadi untuk saya cukup pakai krecek, nangka dan telur; ditambah sebungkus untuk dibawa pulang. Karena prinsip saya: kalau di Jogja sering-seringlah makan gudeg :) Syukurlah, anak saya menyukai rasa gudegnya dan sangat senang bisa melihat kesibukan di warung tersebut. "Ini baru ngga mainstream," katanya.

Kunjungan terakhir kami di Jogja adalah kantor Yayasan Dian Desa, sebuah LSM terkenal yang bergerak di bidang lingkungan hidup, pemberdayaan rakyat dan lain-lain. Disana kami melihat pembuatan barang dari bahan kulit ikan pari; mulai dari pembersihan, penjemuran, pewarnaan, hingga menjadi mendesain dan membentuk bahan kulit ikan pari menjadi barang seperti dompet, tas, ikat pinggang, hiasan dan sebagainya.


Barang-barang buatan tangan ini mempunyai harga yang tidak murah, namun bergaransi seumur hidup. Pembelinya pun tak sedikit yang datang dari luar negeri. Karena masih terhitung teman, maka saya diberi harga spesial untuk sebuah dompet cantik. Lumayan. Yayasan ini memiliki banyak desa binaan dan anak asuh. Saat Gunung Merapi meletus, Dian Desa juga bergerak mengumpulkan dan menyalurkan bantuan berupa pakaian, makanan, selimut dan obat-obatan.


Meja ini dilapisi kulit ikan pari
Sepulangnya dari tempat itu, kami diantar teman saya ke hotel sambil mampir di hotel baru yang mewah, Tentrem. Pemiliknya adalah pengusaha jamu Jago yang terkenal, dulu pernah saya wawancarai. Kami juga membeli oleh-oleh --yang dimakan habis di kereta api-- khas Jogja yaitu kue pia. Tokonya baru, tak jauh dari Tentrem, ukurannya lebih besar dari pia yang hits itu, rasa kuenya lebih enak, apalagi baru dikeluarkan dari oven. Kami berdua sibuk makan pia hangat selama perjalanan ke hotel. Dan beberapa butir yang tersisa pun habis dalam perjalanan pulang kami menuju Jakarta, di kereta api malam Taksaka. ***

Foto-foto: Koleksi Pribadi

*Terimakasih tak terhingga untuk teman semasa SMPku, mbak Diding, dan rekan sesama pencinta alam Mahitala Unpar, kak Elly Wu, atas kesediaan menerima dan menjamu kami di Jogja. Salam.*


Pesona Unik di Utara Makassar


Ampiri adalah sebuah dusun yang terletak di lereng bukit Coppo Tile, desa Bacu Bacu, kecamatan Pujananting, kabupaten Barru, di Makassar, Sulawesi Selatan. Bayangkan teman baru saya di dusun ini kalau menuliskan alamat lengkap rumahnya di amplop surat atau formulir lain. Panjang dan banyak; kontras dengan jumlah penduduk di dusun ini  yang hanya sekitar 1.500 orang.

Untuk mencapai dusun Ampiri saya harus berkendara empat jam atau sekitar 160-an km ke arah utara kota Makassar, ibukota Sulawesi Selatan. Perjalanan langsung dilakukan setelah pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Begitu kendaraan sewaan datang, kami --saya dan 3 teman di tim proyek ini-- langsung berangkat menuju kabupaten Barru. Hanya sekali kami mampir untuk makan siang di restoran bernama Rumah Makan Tujuh Tujuh di daerah Pangkep.


Restoran sederhana ini menyajikan sop saudara dan ikan bakar masakan khas Makassar yang terkenal dengan ikan bandeng-nya itu. Sepanjang perjalanan menuju Pangkep ini memang terlihat banyak tambak-tambak ikan di tepi jalan yang membatasinya dengan laut.

Tampaknya rumah makan Tujuh Tujuh lumayan terkenal. Karena walaupun semua peralatan makan dan meja-kursinya tidak mewah namun banyak pegawai negeri --terlihat dari baju seragamnya-- dan pebisnis-pebisnis daerah makan siang disini. Di dinding restoran terpajang foro-foto dan tanda tangan para artis Indonesia yang pernah makan disini.

Sop saudara (right)
Saking laparnya, saya tidak berminat melihat siapa saja artis itu. Hidangan di depan saya lebih menyita perhatian. Nama sopnya aneh ya, sop saudara, tapi rasanya jangan tanya. Gurih dan lezat sekali. Ikan bandeng bakarnya pun enak, terutama karena segar-segar dan ukurannya besar. Sambalnya khas karena pakai kacang dan rasa pedasnya mantap.  Kapanpun sempat ke Makassar, singgahlah ke rumah makan ini.

Sebenarnya perjalanan bisa ditempuh dalam waktu yang lebih singkat, tetapi kondisi jalan raya utama ini tidak selalu mulus. Ada saja halangannya; ada yang salah satu sisinya masih dalam pengerjaan sehingga kendaraan harus bergiliran lewat. Atau jalan rayanya hotmix yang mulus sehingga mobil bisa dipacu kencang tapi lalu tiba-tiba menjadi rusak selama beberapa meter. Semua jenis kendaraan melalui jalan ini, mulai dari sepeda motor sampai truk-truk berukuran besar. Kata sopir kami jalanan yang rusak itu malah ada yang sudah bertahun-tahun kondisinya seperti itu.

Pebukitan dan tambak bandeng
Nun jauh di sebelah kanan jalan tampak bentangan pebukitan batu yang terkadang beberapa bukitnya tampak putih, setengah tubuhnya sudah terkikis. Itulah wilayah pabrik semen Bosowa dan Tonasa. Pebukitan itu tempat bahan baku produksi semen mereka; tampak gersang dan menyedihkan dari jalan raya ini; apalagi hasil semen mereka sepertinya tidak sampai ke jalan raya yang tentunya sarana transportasi penting bagi mereka juga.




Menuju Bacu-bacu

Angkot Off-road
Mobil sewaan kami hanya mengantar sampai Doi doi, desa beraliran listrik terakhir sebelum menuju Bacu-bacu. Sejak awal tim kami sudah diwanti-wanti untuk bersiap diri harus berjalan kaki dari Doi-doi ke desa sejauh 13 kilometer di atas bukit selama sekitar 5 jam karena kondisi jalan tidak layak dilalui kendaraan di kala hujan. Itu sebabnya saya membawa carrier atau ransel 35 liter dan memakai sepatu hiking. Kontras dengan penampilan tiga teman saya yang semua bawa tas travel biasa dan ada yang hanya pakai sandal "crocs". Memang ada kendaraan umum untuk sarana transportasi penduduk yang akan turun dan kembali ke desanya di gunung tetapi tidak terlintas di pikiran saya kalau akan naik mobil angkutan umum ini. Perjalanan naik angkot lebih singkat, sekitar 1 jam saja; ongkosnya Rp10 ribu per orang. Kalau naik ojek motor perjalanan juga makan waktu 1 jam.

Langit di atas Bacu-bacu
Tampaknya teman-teman saya memilih untuk naik angkutan umum yaitu sejenis minibus bermuatan 7-8 orang. Namun kami harus menunggu sampai senja turun agar mendapatkan sopir kendaraan yang piawai ber-off road di sepanjang jalan.Walau agak sedikit kecewa karena tidak jadi 'hiking', dalam perjalanan dengan angkot saya malah sangat bersyukur karena kondisi jalan yang kami lalui memang tidak menyenangkan pula untuk jalan kaki. Tidak ada jalan pintas melalui hutan atau kebun. Kalau lewat jalan kendaraan pasti harus banyak mengalah karena kondisinya yang buruk dan sempit. Badan kita bisa terpojok ke tebing atau terpepet sampai tepi jurang.

Sehabis shalat magrib angkot off-road kami pun berangkat. Ada sekitar 4 penumpang lain plus anak kecil usia 3 tahunan, anak si sopir, berdiri di belakang bapaknya. Langit semakin gelap saat mobil angkot mulai merendahkan kecepatannya akibat kondisi jalan yang mulai berbatu-batu. Lobang jalan yang kecil-kecil semakin lama berubah menjadi jalanan yang berbatu besar-besar. Kombinasi antara jalan menurun sambil menghindari batu besar menyita setengah dari perjalanan kami. Bayangkan betapa tegangnya kami yang duduk di bangku belakang supir dan terus melihat ke jalanan di depan kami.

Seorang bapak di warung tempat kami menunggu angkot bercerita kalau jurang di rute kami ini sering menelan korban. Sudah sering mobil angkot terperosok ke dalam jurang dengan korban tewas tak sedikit jumlahnya. Karenanya saat melewati daerah yang berjurang, doa yang saya kumandangkan dalam hati semakin keras. Jalanan tanpa penerangan sama sekali semakin menambah ketegangan seisi angkot. Penumpang lain yang tampaknya sering mondar mandir menggunakan angkot juga duduk dengan diam. Tak terdengar obrolan mereka yang sebelumnya hangat. Saya yang sudah mulai percaya pada kepiawaian si sopir juga kembali deg-degan melihat kondisi jalan dan tepi jurang yang hitam.

Ampiri saat senja
Daerah ini sudah lama tidak turun hujan namun di beberapa titik jalan kondisinya becek dan berlumpur. Ternyata ada pipa air yang bocor dan airnya melimpah hingga ke jalan. Bahkan ada yang sedang mencuci mobilnya di dekat pipa tersebut. Jalanan yang sudah tidak karuan semakin membahayakan karena licin. Acapkali sopir kami menggunakan kecepatan nol, alias bermain kopling dan rem untuk melalui batu-batu besar dan tajam di jalan menurun, berbelok-belok bahkan tiba-tiba menanjak drastis. Bener deh, mendingan naik roller coaster daripada naik angkot ini! Hebatnya lagi, bocah si sopir tadi tertidur pulas di punggung bapaknya di tengah perjalanan.

Namun semua dapat terlampaui dengan selamat. Dua desa sebelum tujuan kami tampak pemandangan menarik. Sejumlah anak muda yang memarkirkan motornya di pinggir jalan sedang sibuk bertelepon dengan handphone-nya. "Ini tempat kita bisa menemukan sinyal, di bawah sudah tidak bisa," kata seorang penumpang pada kami. Wow! Saya semakin bergairah mendengarnya, sekaligus khawatir. Saya belum pernah tidak terjangkau sinyal, tapi bagaimana kalau ada apa-apa dengan keluarga dan saya tidak bisa dihubungi? Hmmm...


Sampai di dusun Ampiri kami disambut teman yang menjadi nara sumber tulisan dan dokumentasi kami; Harianto atau dipanggil Anto. Rumah panggung sederhana milik orangtuanya menjadi tumpangan kami hingga 3 hari ke depan. Penerangannya yang suram tidak menghalangi kami untuk berbincang-bincang, makan malam, cuci-cuci lalu tidur. Eh, makan malamnya nikmat sekali lho. Ada ketupat, nasi putih dari sawah sendiri, ikan dan lain-lain. Ibu sudah lama tidak ke pasar jadi tidak ada sayur. Tak mengapa, tidur saya nyenyak sekali malam itu karena kekenyangan.

Terangi Desa
Anto masih kuliah di Universitas Negeri Makassar, fakultas kimia. Namun ia memiliki kepedulian tinggi pada desanya. Di usianya yang masih muda Anto sudah menjadi pahlawan bagi masyarakat dusun kelahirannya karena membuat pembangkit listrik menggunakan kincir air sederhana. Atas usahanya dusun Ampiri yang sudah lebih dari 30 tahun tidak mempunyai listrik menjadi terang benderang. Perusahaan Astra Indonesia memberi penghargaan kepada Anto untuk jasanya tersebut. Selengkapnya tentang hal ini bisa dibaca di laman Facebook Astra.

Musim kemarau yang panjang di daerah Ampiri dan sekitarnya tidak membuat sungai menjadi kering. Saya menyusuri pematang sawah-sawah yang kerontang saat menengok sungai yang menjadi sarana penerangan dusun tersebut. Debit air memang kecil tapi kekuatannya masih cukup untuk menerangi desa. Untuk penerangan rumahnya sendiri yang masih suram Anto mengakui dia hanya belum mengganti lampu pijarnya karena harus membeli di kota.

Beberapa kerbau tampak mencari makan di tengah sawah. Langit biru di atas Ampiri begitu indah. Udara pagi hari pun terasa dingin menusuk. Setiap malam angin bertiup kencang, membuat berisik suara atap seng rumah. Namun saya selalu tertidur pulas, sendirian di kamar tuan rumah. Orangtua Anto mengalah tidur dengan anaknya di dekat dapur karena tidak mau saya tidur bersama-sama para teman pria di ruang tamu.

Pagi hari di Ampiri
Penduduk dusun Ampiri ramah-ramah. Mereka jarang bisa berbahasa Indonesia dan saya tidak mengerti bahasa Makassar. Tapi mereka penuh pengertian, tidak memandang dengan aneh atau heran, cenderung pemalu dan senang memberi. Tiga hari hidup di dusun tanpa sinyal dan penerangan yang maksimal ternyata tidak mematikan selera makan saya. Apapun yang dihidangkan ibunya Anto selalu kami lahap dengan nikmat. Kopi makassar yang terkenal pun kami dapatkan dengan mudah di warung tetangga.

Kegiatan dokumentasi berjalan lancar karena walaupun sedikit pemalu, penduduk Ampiri cukup informatif dan kooperatif. Kehidupan yang cukup keras karena kondisi infrastruktur jalan, penerangan dan lahan yang kering tidak membuat wajah mereka dingin. Rasa syukur dan optimisme, itu yang menurut saya membuat penduduk Ampiri tetap survive sejak dahulu saat gelap gulita hingga kini sudah menikmati aliran listrik.

Oleh-oleh khas dusun ini adalah gula merah yang keras dan tebal sebesar batu bata serta madu. Keduanya manis asli; sangat manis namun tidak membuat sakit gigi. Madunya dikemas dalam botol dan saat saya minum masih ada serat-serat sarangnya. Menyegarkan!

Kerajinan cobek & nisan di Kab. Barru
Perjalanan pulang di pagi hari membuat kami dapat menelusuri kondisi jalan dan keadaan sekitarnya. Memang, lebih baik melintasi jalan itu dalam kondisi gelap karena tidak keseluruhan badan jalan yang terlihat. Namun pemandangan di kiri-kanan jalan yang indah sangat menghibur mata dan hati saya.

Lepas dari jalanan off-road kami melewati sebuah desa yang berjualan kerajinan dari batuan yang banyak tersebar disitu. Agak seram sebenarnya, karena salah satu hasilnya adalah batu nisan; selain cobek. Kabarnya, kerajinan ini terbukti kuat dan tahan lama.


Di kabupaten Baru ini juga ada harta terpendam lho. Batuan marmer sebesar-besar truk mini seperti dilemparkan penciptaNya di pebukitan. Beberapa yang sudah terkelupas karena dipotong, tampak berkilau tertimpa matahari. "Itu mahal sekali kalau dijual," kata sopir kami.



Makassar


Kota yang sempat berganti nama menjadi Ujung Pandang ini memiliki benteng layaknya kota-kota bekas jajahan Belanda yang terletak di tepi laut. Namanya Fort Rotterdam. Tipe bangunan dan suasana Fort Rotterdam hampir mirip di benteng Vredeburg di Jogjakarta; hanya sedikit lebih luas dan ada museumnya yaitu Museum La Galigo.

Sebagai penyuka kota tua dan bangunan-bangunan tua saya langsung menyesal tidak membawa kamera yang 'sungguhan' agar puas membidik angle-angle menarik di Rotterdam ini. Namun beberapa hasil bidikan kamera BB saya cukup menghibur hati karena tempatnya memang bersih, warna bentengnya bagus, rapih dan langit Makassar sedang sangat biru. Sayang, saya tidak sempat mencoba naik becak Makassar yang ukurannya seperti becak Malang ini.

Biasanya turis juga tidak lupa mengunjungi pantai Losari dan makan pisang epe disana. Sejujurnya pantai ini biasa sekali. Apalagi tepiannya adalah pagar tembok, bukan pasir pantai. Pemandangan di hadapan kita pun bukan ombak besar atau pulau indah. Namun menyaksikan matahari tenggelam di pantai ini cukup menghibur hati yang kecewa akibat melihat sampah-sampah di bawah tembok pantai. Mungkin pemerintah setempat bisa lebih memperhatikan kebersihan di tempat ini untuk kenyamanan wisatawan.

Nah, kalau sudah berada di Makassar jangan lupa wisata kuliner. Selain makan ikan bakar, cotto makassar dan kue-kue basahnya yang lezat, cobalah ke kedai kopi Phoenam. Kedai ini terkenal ke seantero nusantara karena kopinya nikmat, terutama kopi susunya.

Saat kami datang si pemilik sendiri yang meracik pesanan kami. Kabarnya, pejabat-pejabat tinggi dan orang terkenal paling suka ngopi disini, termasuk Jusuf Kalla, mantan wakil presiden RI. Tempatnya sendiri sederhana, tidak ada sofa atau wi-fi seperti cafe-cafe di Jakarta. Kursinya sederhana. Tidak ada AC. Namun pengunjungnya tak pernah sepi. Kopi Makassar memang terkenal enak selain kopi Aceh, Mandailing dan Papua. Mau coba? Segeralah terbang ke Makassar :)

*Makassar trip, 2012*