Jumat, 12 Juli 2013

Wisata Kota Lama di Semarang

Seri 1 MomDaughter's Backpacker

Halte Kota Lama
Sudah pernah ke Semarang?
Kalau sudah, apakah mengunjungi kota lama termasuk dalam daftar kunjungan Anda?
Pasti Anda bertanya: untuk apa? Apa yang menarik dari kota lama yg tua? Bukankah malah menyeramkan, melihat gedung-gedung lawas tak terurus yang penampilannya menyedihkan dengan lumut dan kerak-kerak cuaca, atau terlihat mengenaskan karena dibiarkan begitu saja tidak digunakan tetapi juga tidak diperbaiki?
Terlantar

Memang betul. Karenanya, wisata ke kawasan kota lama atau kota tua dimanapun, di dalam dan luar Indonesia, sungguh membutuhkan mata yang 'tidak biasa'. Mata yang tidak sekadar melihat penampilan luarnya yang tua dan menyedihkan, namun mampu melihat keindahan dan keunikan bangunan tersebut. Mata yang dapat menangkap keanggunan dibalik kecantikan yang tergerus waktu.
Salah satu mural di kota lama

Semarang memiliki kota lamanya sendiri seluas sekitar 31 hektar. Menurut Wikipedia, kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya dan nampak seperti kota tersendiri sehingga mendapat julukan Little Netherland. Kawasan kota lama (Outdstadt - bhs Belanda) Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda selama lebih dari dua abad. Lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi dan perdagangan.

Gereja Blenduk
Ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh, meski tampak renta, dan mempunyai sejarah kolonialisme di Semarang.
Sebagaimana kota lama di Jakarta, di Semarang pun tidak semua bangunan tuanya bernasib buruk alias tidak dipedulikan. Atau kita anggap saja pemerintah belum mempunyai dana untuk merenovasi semua bangunan tua itu ya; bukan tidak dipedulikan. Gereja Blenduk, misalnya. Nama aslinya adalah Nederlandsch Indische Kerk (kerk=gereja, bhs Belanda, red.).
Gereja yang dibangun tahun 1753 dan merupakan salah satu landmark kota lama ini masih berfungsi sebagai gereja GPIB Immanuel. Gereja ini memiliki atap berbentuk kubah berwarna merah bata yang terbuat dari perunggu serta dua menara kembar di depannya. Masyarakat pribumi dulu kesulitan mengucapkan nama dalam bahasa Belanda tadi sehingga menyebutnya dengan blenduk saja; asal kata mblenduk (mengembang ke atas) untuk menandai kubah besar berbentuk setengah bola itu.
Orgel Barok
Dari ballkon
Foto utuh bangunan gereja bergaya Neo-klasik ini banyak terdapat di internet, karena itu kami mengambil angle foto yang tidak biasa. Tambahan lain adalah foto interior gereja yang kebetulan berhasil dibidik karena gereja sedang tidak digunakan. Hanya ada seorang penjaga yang mengantarkan kami melihat-lihat bagian dalam gereja. Setelah selesai mengambil foto dan hendak keluar gedung si penjaga meminta Rp10.000 per orang sebagai tiket masuk. Katanya sih untuk pemeliharaan gereja. Hmmm...


Blenduk

GPIB Immanuel ini masih dipakai untuk kebaktian para penganut Protestan dengan kapasitas 400 jemaat. Selain untuk kebaktian, gereja juga difungsikan untuk acara pemberkatan pengantin.

Marabunta & Becak kami
Bangunan lain yang tak kalah megah dan bersejarah adalah Gedung Marabunta yang terletak di jalan Cendrawasih nomor 23. Gedung yang awalnya bernama Schouwburg ini merupakan satu-satunya bangunan pertunjukan berbentuk bulat telur. Ia juga memiliki ciri unik yaitu adanya patung semut raksasa di atapnya. Tanggal berdiri gedung ini belum dapat dipastikan, demikian menurut berbagai sumber, namun tahun 1854 di kalangan masyarakat Eropa ada pementasan tetap yang berlangsung sebulan sekali. Kemungkinan besar Marabunta sudah ada saat itu dan dipakai untuk mementaskan karya seni drama. Dugaan juga diperkuat dengan gaya bangunan lengkung busur dan kolom langsing  yang disukai pada masa itu. Sistem dinding penyangga dan pasangan bata di atas ambang pintu maupun jendela juga dapat memperkuat dugaan tersebut.

Kabarnya gedung Marabunta ini pernah menjadi tempat pertunjukan seorang spionase wanita cantik bernama Matahari. Dalam perkembangannya nama Marabunta lebih sering dipakai daripada Schouwburg karena adanya patung semut tersebut. Fungsinya sebagai gedung pertunjukan berakhir pada masa awal kemerdekaan. Lalu sempat dijadikan kantor yayasan dan akhirnya direkonstruksi pada tahun 1995. Hasil rekonstruksi adalah gedung dibelah menjadi dua dan yang tampak dalam foto ini adalah Marabunta baru yang berada di sisi selatan.
Marba tahun 1910
Saat memasuki jalan Letjen Suprapto mata kita pasti langsung tertuju pada bangunan berwarna merah bata ini, Gedung Marba. Gedung yang dibangun pada pertengahan abad 19 ini merupakan bangunan dua lantai dengan tebal dinding sekitar 20 cm.
Pembangunannya diprakarsai oleh Marta Badjunet, seorang warga negara Yaman yang adalah saudagar kaya pada jaman itu. Untuk mengenang jasanya bangunan itu dinamai singkatan namanya, Marba. Namun awalnya gedung ini bernama De Heeren Straat dan digunakan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Selain itu digunakan pula untuk toko yang modern dan satu-satunya pada waktu itu, De Zeikel.

Sayang sekarang kabarnya gedung cantik ini dijadikan gudang. Bayangkan kalau ia menjadi gedung pertunjukan teater dan seni budaya lainnya, ditata halaman depannya, mungkin tidak kalah cantik dengan stasiun tua di Melbourne, Australia. Usia gedung yang lebih dari 100 tahun terbukti dari foto di KITLV yang diambil tahun 1910 (foto di atas).

Bangunan berwarna merah bata dengan pintu-pintu tinggi ini adalah gedung PT Pelni. Terletak di jalan Mpu Tantular juga seperti Bank Mandiri dan Djakarta Lloyd, gedung ini dibangun pada awal abad 20. Semula bangunan ini ditempati oleh NV Bouwmaatschapij, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi muatan kapal laut. Gedung ini berada di tepi sungai/kali Semarang; pada foto ada di bagian kiri, seberang jalan. Pada jaman itu bisa dilayari kapal berukuran besar, sehingga kapal dapat merapat dan bongkar muat di depan kantor. Hebat ya!
Stasiun KA tertua di Indonesia
Stasiun kereta api Tawang termasuk bangunan bersejarah di Semarang. Dibangun pada tahun 1911, bangunan yang anggun dan berkarakter Romanticism yang populer di Eropa pada masa itu. Stasiun ini mempunyai bangunan utama yang beratap kubah tinggi serta memiliki sayap-sayap bangunan di kanan-kirinya yang didomimasi oleh atap pelana dari genteng merah dengan buka-bukaan atap sebagai variasi (sumber: indonesianheritagerailway.com).



Bangunan di sayap kiri 
Bentuk bangunan yang simetris ini merupakan salah satu ciri arsitektur kolonial yaitu perpaduan antara langgam desain romanticism tadi dengan penyesuaian terhadap iklim lokal tropis melalui penggunaan atap pelana serta banyak bukaan untuk keluar masuk udara. Akibat banjir karena hujan dan rob, lantai bangunan harus dikeruk dan rel pun harus ditinggikan. Maka ketinggian bangunan ini sudah berkurang 1,5 meter.

Satu lagi bangunan yang lawas dan bersejarah adalah jembatan Berok atau Mberok. Nama sebenarnya adalah Gouvernementsbrug, lalu diganti menjadi Sociteisbrug. Orang pribumi sulit melafalkan Brug, maka disebutlah Berok, hingga sekarang. Seharusnya jembatan ini diulas paling awal karena dialah peninggalan Belanda yang mengantarkan kita melihat kota lama. Dulu jembatan ini berfungsi untuk menghubungkan kota lama atau Oudstandt dengan bagian kota yang lain.
Jembatan Berok

Jembatan yang melintas di atas kali Semarang ini dibentuk dari empat buah kolom utama dengan bentuk menyerupai obelisk, dan pada puncak kolom terdapat lampu yang cukup unik. Begitu melewati jembatan ini, berbelok ke kanan dan ke kiri jalan sudah berjajar bangunan-bangunan lawas Oudstandt; megah dan indah. Salah satu yang langsung berhadapan dengan Berok adalah gedung Bank Mandiri yang semula dipakai oleh Nederlandsche Hendel Maatschappij (tahun 1908). Di sebelah kiri gedung ini adalah bangunan PT Djakarta Lloyd. Namun saya hanya tertarik pada bentuk setengah kubah di bangunan itu.

Saksi Sejarah
Masih banyak lagi bangunan yang indah dan bersejarah di kota lama yang belum sempat saya kunjungi. Pabrik kretek Praoe Lajar, Bank Export Import Indonesia, PT Perkebunan XV dan lain-lain. Mungkin ada juga yang sudah saya jenguk namun karena keterbatasan informasi yang saya miliki serta ketiadaan informasi di kota lama mengenai 'warga'-nya maka terlewat begitu saja. Akan tetapi wisata ini menggoreskan banyak kenangan akan sesuatu yang berusaha dikembalikan ke bentuk asalnya dan sesuatu yang belum sanggup dirawat sebagaimana mestinya.
IBC terawat cantik
Persis di depan Gereja Blenduk terdapat rumah makan Ikan Bakar Cianjur (IBC) yang menempati bangunan berusia sekitar 200 tahun, konon. Apabila melihat bangunan ini rasanya ingin kita memperbaiki semua bangunan di kawasan kota lama menjadi tampak baru seperti ini. Cantik bukan?
Tanaman merambati atap dan pintu-jendela
Bangunan di ujung Jl. Merak
Lalu perhatikan bangunan di kedua foto ini. Struktur bangunan yang kokoh dengan dinding tebal dan atap yang khas berwarna abu-abu berpadu indah dengan warna hijau tanaman yang merambati bangunan. Ironis sekali bukan? Nuansa warna bangunan menjadi indah namun sebenarnya tanaman tersebut sudah merusak bangunan. Foto di sebelah kanan adalah bangunan di ujung jalan Merak --dulu bernama Noorderwalsstraat-- sebagai batas Utara kota lama Semarang. Foto sebelah kiri adalah tampak depan bangunan yang sudah tertutup tanaman, bahkan pohon.
Sepanjang jalan Merak terdapat bangunan-bangunan lama lain yang sudah berubah fungsi antara lain menjadi hotel --tanpa mengubah bangunan-- juga kantor Suara Merdeka, harian terkenal di Jawa Tengah. Untunglah ada jalanan yang terbuat dari paving block dan pot-pot tanaman sebagai penengah jalan, sehingga kondisi bangunan ini tidak terlihat terlalu menyedihkan.
Kantor Gabungan Koperasi Batik Indonesia
Inilah salah satu contoh bangunan lama yang dibiarkan kosong dan tak terpelihara. Bangunan kantor GKBI ini terletak di jalan Mpu Tantular. Berdiri tahun 1930-an, gedung ini didirikan untuk Koperasi Pengusaha Batik mengingat pada waktu itu batik juga telah diekspor ke luar negeri. Saya hanya dapat membayangkan sebesar apa ruangan-ruangan di dalam bangunan ini. Pepohonan yang tumbuh tinggi menghalangi pemandangan langsung ke bangunan tersebut apabila melihatnya dari kendaraan. Dari internet diperoleh foto utuh bangunan ini jaman dahulu. 

Sebuah bangunan terselip di antara bangunan lawas lain di belakang gereja Blenduk. Di atas pintu utamanya tertulis R-ode Driehoek. Samar-samar terlihat huruf O, jadi seharusnya Roode Driehoek yang dalam bahasa Inggris artinya Red Triangle. Kondisinya tidak bagus, bahkan tampak tak dirawat apalagi dialihfungsikan. Pintu dan jendelanya yang besar dan berteralis serta bentuk bangunannya yang sederhana menandakan bangunan ini lebih menekankan fungsi bukan keindahan. Sungguh sulit menemukan sejarah bangunan ini di internet; tidak ada penjelasan apapun tentangnya. Tetapi kendati sekilas seperti bangunan biasa ternyata beberapa sumber menyebutnya benteng. Mengapa benteng letaknya di tengah-tengah bangunan lain ya? Dari internet saya menemukan fakta bahwa bangunan ini adalah bagian dari bangunan di sebelah kanannya dan diduga pada jaman kolonial berfungsi sebagai gudang.
Tampilan yang Menyedihkan
Entah apa yang menjadi pertimbangan pemerintah atau lembaga apapun yang merenovasi Little Netherland ini. Apa mungkin akibat kekurangan dana maka renovasi mendahulukan bangunan yang dialihfungsikan menjadi tempat bisnis lalu sisanya menjadi terlantar? Yang pasti bangunan ini paling menyedihkan penampilannya. Padahal dia terletak di samping gedung PT Pelni; bahkan jangan-jangan merupakan bagian darinya. Mungkin saking besar dan panjangnya gedung tersebut maka dibatasi saja bagian mana yang diperbaiki dan digunakan kembali, lalu sisanya dibiarkan berlumut, kusam dan jorok. Sungguh mengenaskan.
Secara umum karakter bangunan di wilayah Oudstandt ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna --bahkan kaca es pada bangunan Djakarta Lloyd--, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. Nah, yang terakhir ini kiranya dapat disurvei saat kunjungan berikutnya :)

Dalam kondisi tak terawat dan terancam banjir maupun rob setiap tahun, beberapa bangunan yang tetap berfungsi bagai terengah-engah mengikuti jaman. Perusahaan dengan nama campuran Indonesia-Belanda seperti di foto sebelah memilih berkantor di salah satu peninggalan bersejarah ini. 
Semoga interiornya lebih bagus dan terawat, namun eksterior bangunan ini cukup memilukan. Jelas terlihat jendela berkaca rayban itu adalah produk abad 20, namun ornamen pada pintu mencerminkan pengaruh gaya Eropa. Tetapi nasib Semarang Veem ini masih lebih baik daripada bangunan di kanan ini yang malah beralih fungsi menjadi bengkel.

Pernik Bangunan Lama dan Mural

Sebuah bangunan, terutama bangunan tua, tidak hanya penampilan gedungnya saja yang menarik. Pernak-pernik bagiannya, selain interiornya, juga tak kalah unik. Gaya dan usia sebuah bangunan lebih terlihat jelas apabila kita mengamati pintu, jendela, lubang angin, renda-renda di dindingnya, atau 'aksesoris' lainnya.
KantorPT Djakarta Lloyd ini misalnya, meskipun tampak tua (dibangun tahun 1930) namun lubang angin yang dibuat terangkai mengelilingi jendela tetap unik. Lubang angin juga bisa berbentuk bintang dan ada di daun pintu, seperti tampak di foto sebelah kiri ini. Lucu ya :)
Ini adalah bagian besar gedung tempat kantor Djakarta Lloyd berada. Bangunan ini berlantai dua tapi ada bagian yang berlantai tiga. Atap bangunan berbentuk limasan, dan bahan penutup atapnya adalah genteng yang didatangkan khusus dari negeri Belanda (sumber: semarangkotalama.blogspot.com).  Perhatikan balkon di tiap jendela dan jendela yang berbentuk bulat atau melengkung. Tampaknya gedung ini juga belum direnovasi karena di dekat atap sudah ditumbuhi semak-semak.

Bangunan di sebelah kanan ini mempunyai bentuk pintu seperti pintu gudang jaman Belanda yang juga bisa dijumpai di kompleks bangunan di jalan Gudang Utara, Bandung. Pagar lantai duanya berukir. Lubang angin berbentuk jendela bulat di samping bangunan pun tetap unik meski lantai balkonnya tampak tak terawat. Terlihat juga ada mural di dinding bangunan; bukan hal aneh, karena hampir semua bangunan di kawasan kota lama berhiaskan mural.
Kreativitas selalu mencari tempat, dimanapun itu. Demikian pula di kompleks bangunan tua di kota lama Semarang. Tembok-tembok bangunan yang bersih karena dirawat ataupun berlumut serta renta dimakan usia terlihat menjadi lebih berseri dengan aneka gaya mural.

Warna-warni gambar atau kata-kata uniknya sering dapat menutupi kesan suram dan kumal bangunan tertentu. Tidak hanya mengisi bidang kosong pada dinding bangunan, mural pun merambah hingga ke pintu bangunan yang rata-rata tinggi dan besar atau di tempat peralatan listrik bahkan tempat sampah.
 Memang tidak semua mural indah atau bermakna baik. Terkadang kita tidak mengerti maksud dan tujuan mural tersebut. Ejaan yang dipakai pun bisa mengacu pada jaman kemerdekaan. Beberapa gambar juga seperti ingin kembali ke jaman sebelum kemerdekaan. Ada pula yang berupa gambar salah satu bangunan tua di kompleks kota lama yaitu gereja Blenduk. Namun semuanya tampak tidak dibuat sembarangan dan tetap mempunyai seni.
Disamping itu, mirip seperti jalan Braga di Bandung, jalanan di sekitar Oudtstadt ini tidak menggunakan jalan aspal melainkan paving blok yang tertata rapi menyelimuti wilayah seluas 30 hektar tersebut.

Beberapa mural di bawah ini kalau diperhatikan betul memang saling berdekatan atau menyatu:





Peta Wisata Kota Lama
Di Eropa, kota-kota besarnya juga mempunyai kawasan kota lama atau kota tua. Jerman menyebutnya Altstadt, Perancis menyebutnya Vieux ... (nama kota), dan seterusnya. Kota tua yang indah dan terawat yang pernah saya kunjungi adalah di Nuremberg dan Duesseldorf di Jerman. Khususnya di Nuernberg atau Nuremberg, saya beruntung bisa menginap di rumah sahabat beberapa lama dan lebih dari satu kali sehingga bisa sering berkunjung ke Altstadt-nya yang berjarak hanya lima menit berjalan kaki dari apartemen. Waktu itu tahun 2003; kamera digital masih langka dan mahal harganya. Maka saya sangat tergantung pada kamera sahabat saya yang lumayan canggih dan hasilnya bagus namun tampak seperti di bawah ini kalau di-scan.

Di Altstadt Nuremberg, Jerman
Anyway, berwisata ke altstadt sudah menjadi agenda tetap saya selama berada di Jerman. Bukan hanya karena bangunan-bangunannya tetap tampak indah dan terawat, tetapi juga karena PETA dan petunjuknya jelas. Itu yang terpenting menurut saya, dimanapun si kota lama berada, termasuk di Semarang.
Bangunan yang tampak di foto itu adalah Sinwellturm (Sinwell tower) yang merupakan bagian dari Nuernberger Burg (Nuremberg Castle).
Hancur oleh Bom

Altstadt yang indah --bisa dilihat di www.nuernberg.de-- pernah rata dengan tanah pada jaman Perang Dunia ke-2. Sedikit kisahnya saya ceritakan di blog satu lagi, www.pilgrim.blogspot.com. Hampir semua bangunan disana yang mulai berdiri sejak tahun 1000 itu hancur kena bom, kecuali Sinwellturm dan dua bangunan lain di Nuremberg Castle. Usai perang dunia, seluruh Altstadt dibangun kembali perlahan sesuai dengan bangunan aslinya! Bayangkan betapa teliti bangsa Jerman menyimpan dokumentasi negaranya itu.

Saat saya mengunjungi kota lama ini, untuk mengamati seluruh isinya tidak cukup hanya bermodalkan semangat dan kekuatan fisik, tetapi juga peta. Entah berapa kilometer persegi luas kota lama ini karena tidak seperti Semarang, hampir seluruh bangunan di altstadt masih berfungsi sebagai museum, kantor pemerintah, gereja, bar, restoran, tempat seni, toko-toko suvenir ataupun supermarket bahkan youth hostel. Alstadt juga tidak hanya mempunyai jalan raya yang terbuat dari cobblestone, namun juga gang-gang kecil yang hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki seperti pada foto di atas. Tanpa berbekal peta, rasanya saya tak sanggup menjelajahi bangunan-bangunan yang cantik tersebut dengan ilmu mengira-ngira.
Peta Altstadt Nuremberg
www.tour-europe.org
Ada dua macam peta yang menarik yang pasti bisa menjadi bahan untuk  membuat peta wisata kota lama di Indonesia, tidak hanya Semarang. Yang pertama dari Nuernberg ini cukup lengkap dengan mencantumkan nama jalan (strasse, red.) juga gang (gasse, red.) plus gambar bangunan bersejarahnya. Jadi bagi mereka yang kesulitan membaca tulisan pun pasti dapat menemukan bangunan tersebut. Peta ini juga mencantumkan jelas letak stasiun KA bawah tanah (tanda U) dan nomor dengan warna berbeda yang menunjukkan tempat bersejarah atau toko atau lainnya. Peta ini tidak utuh karena keterangan nomor-nomor tersebut tercantum di bagian bawah atau samping peta. Selain bisa berkelana di dalam altstadt dengan gampang, peta ini juga memudahkan pelancong mencapai altstadt dari sisi manapun.
Peta Altstadt Frankfurt
http://www.relevantsearchscotland.co.uk
Kota lama Frankfurt tidak seluas Nuernberg punya, namun ia punya Romer yang  keindahan bangunannya terkenal. Mungkin karena itu di peta ia menempati urutan pertama. Walaupun tidak luas, menjelajahi altstadt akan sangat menjengkelkan kalau tidak berbekal peta. Pasalnya, bangunan modernnya sudah demikian dekat dengan bangunan-bangunan tuanya dan tercampur baur. Belum lagi harus menyeberang sungai untuk melihat nomor 8 dan 9 (Lihat peta). Oh ya, biasanya peta diperoleh di kantor turis di dekat kawasan altstadt atau di supermarket yang ada disana.
Andaikan kota lama Semarang memiliki peta serupa --kalau berlum ada-- maka wisata kesana mungkin akan lebih menarik dan menjadi bahan pembelajaran yang bagus untuk para pelajar. Apalagi kalau ditambah dengan catatan sejarah setiap bangunan di belakang peta itu. Atau malah bisa didownload ke gadget, wow! Lalu keliling kota lama dengan mengendarai becak berbekal peta pastilah menjadi petualangan menarik bagi siapapun yang mencintai Indonesia :)

DokumentasiPribadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar