Kamis, 24 Oktober 2013

Berburu Matahari Terbit Hingga Blusukan ke Dapur Gudeg

Seri 2 MomDaughter's Backpacker

Dieng Plateau

Ke Dieng
Dieng terletak di ketinggian sekitar 2000 meter diatas permukaan laut. Sering disebut-sebut sebagai dataran tinggi berpenghuni tertinggi kedua setelah Tibet, maka pantas jika dijuluki atapnya pulau Jawa.
Letaknya 30 km dari Wonosobo, tepatnya di perbatasan kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonosobo. Karena letaknya di tengah wilayah Jawa Tengah, Dieng hampir sama jaraknya apabila ditempuh dari Jogja di bagian selatan maupun dari Semarang di bagian utara. Kabarnya kalau naik kendaraan menghabiskan waktu sekitar 3 sampai 5 jam. Transportasi bisa dengan bis atau mobil travel diteruskan angkot kecil karena tak ada rute bis umum yang sampai di desa tertinggi itu. Jalan termudah namun makan ongkos lebih besar, bisa berbeda sekitar Rp350 ribu, adalah dengan mobil sewaan.
Komplek Candi Dieng

Wisata ke Dieng sudah saya rencanakan sejak dari Jakarta. Agar wisata lebih nyaman bagi dua perempuan seperti saya dan anak remaja saya, maka kami menggunakan jasa travel. Sayangnya tidak ada paket wisata yang cocok dengan bujet kami. Saya sempat browsing dan menyusun sendiri rencana mulai dari transportasi menuju Dieng dari Semarang, penginapannya, peminjaman kendaraan untuk ke tempat-tempat wisatanya hingga perjalanan pulang dari Dieng ke Jogja. Saya juga menelepon ke beberapa tempat penginapan disana dan mendapat keterangan tambahan tentang warung makan, sewa motor, cara menuju bukit Sikunir dan lain-lain. Hasilnya: semua tidak pasti dan tidak nyaman. Kalau saya berangkat sendiri mungkin tidak masalah. Saya bisa berpetualang ala mahasiswa. Tapi saya mengingat akan anak remaja saya yang walaupun mudah diajak hidup susah tapi riskan kalau kami hanya berdua perempuan harus naik angkot dari Wonosobo jam 4 sore menuju Dieng.

Masalahnya adalah ada jalan yang sedang dalam perbaikan di antara Wonosobo dan Dieng. Akibatnya, semua kendaraan harus memutar lewat Banjarnegara. Artinya, semula hanya makan waktu 20 menit ke desa, kini menjadi 3 jam! Lalu saya mengarang sendiri untuk naik bis, turun di gardu pandang lalu jalan kaki menyeberangi jalan rusak tersebut dan dijemput staf penginapan di seberang. Penginapan bersangkutan sudah setuju. Lalu saya terpikir hal bagaimana kalau kemalaman di jalan dan saya harus berjalan membawa satu koper kecil, satu ransel dan menggandeng anak perempuan saya yang bawa ransel kecil? Lalu kami naik motor masing-masing dengan staf penginapan karena kalau pakai mobil lebih mahal. Wow!

Akhirnya saya menyerah dan menelepon jasa travel pertama. Saya mengajukan paket yang saya 'jahit' sendiri yaitu tidak dijemput ke Semarang melainkan bertemu di Wonosobo, agar biaya mobil Rp 400 ribu bisa terpangkas. Dari Wonosobo lanjut ke Dieng, menginap semalam, besoknya ke 5-6 tempat wisata, dan sekitar jam 2 atau 3 siang diantar ke Wonosobo lagi. Mungkin karena tidak tega mengetahui calon kliennya perempuan dari kota yang jauh, hehehe... si operator malah memberikan harga yang relatif murah untuk paket yang saya ajukan tersebut ditambah diantar ke Jogja dari Dieng. Wah, surprais banget!

Petani Bawang dan Kentang
Sayangnya, saya tidak memperhitungkan bahwa harga paket yang murah itu adalah menggunakan mobil carry yang sungguh sudah bobrok penampilan dalam dan luar. Walaupun mesinnya masih kuat tapi saya rasa doa yang kencang lah yang membuat mobil bisa sampai ke Jogja akhirnya. Untung pula guide dan sopirnya baik dan ramah sehingga kekecewaan karena mobil bobrok itu agak terobati.

Di Semarang sungguh sulit berbicara dengan para operator mobil travel. Tarifnya memang wajar per orang, antara Rp50-70 ribu namun tidak memudahkan bagi yang bukan penduduk Semarang atau berasal dari Jawa Tengah. Atas saran beberapa orang akhirnya saya coba Cipaganti Travel yang saya tahu sekali pelayanannya untuk trayek Jakarta-Bandung cukup baik. Tanpa banyak perdebatan dan keterangan, saya berhasil booking 2 kursi terakhir pada jam 12 siang dan akan dijemput di hotel. Lumayan kan, daripada naik becak dengan bawaan saya. Taksi di Semarang agak sombong. Kalau jaraknya dekat mereka tidak mau narik. Sedangkan tukang-tukang becaknya ramah dan baik hati.

Mie Ongklok
Singkat kata, perjalanan dari jam 12 siang akhirnya baru benar-benar dilakukan pada jam 1 karena penjemputan kesana-sini plus mengantar seorang penumpang travel ke Jogja yang ditinggal mobil travelnya. Sopir nyentrik yang pintar ngebut, irit bicara tapi sering berteleponan sambil mengemudi, dan jalan raya yang lebih banyak yang rusak walaupun sudah mengambil jalur pintas, serta mengaso 30 menit di jam yang bukan makan siang akhirnya membawa kami sampai di taman kota Wonosobo pada sekitar jam 5 sore. Disana sudah menunggu guide dan supir travel kami untuk ke Dieng. Sebelum menuju Dieng saya minta mampir ke mie ongklok khas Wonosobo yang terkenal itu, nama tempatnya Mie Longkrang.

Makanan mie ongklok adalah salah satu makanan khas Wonosobo. Ada beberapa warung mie ongklok di kota ini, tetapi yang paling terkenal memang warung milik Waluyo ini. Letaknya di Jalan Pasukan Ronggolawe no. 14. Tempatnya sederhana, berupa rumah lama dengan tempat duduk kayu panjang dan meja untuk di halaman rumah. Dapurnya ada di teras rumah, dan pengolahannya bisa langsung dilihat pembeli.

Mie ini sebenarnya biasa saja, mirip lomie, makanan khas di Bandung. Semangkuk mi basah biasa ditambah kol dan kucai yang dicampur bumbu kacang lalu diguyur kuah kental bernama kuah jenang. Kuah ini terbuat dari gula jawa, ebi, pati serta rempah-rempah yang diolah. Setelah bumbu kacang dan kuah jenang dicampur lalu diongklok (diaduk, bahasa Jawa), dibubuhi kecap manis, merica dan bawang goreng. Sebagai penambah kenikmatan, pemilik warung menawarkan lauk pendamping yaitu sate sapi, tempe kemul dan aci goreng. Harganya sangat murah untuk kantong orang Jakarta yaitu Rp5.000 per porsi mie ongklok, dan Rp 15.000 per satu porsi sate isi 10 tusuk. Lho, lebih mahal satenya? "Iya mbak, harga daging kan naik terus," kata pelayan warung.
Mie Ongklok asal Wonosobo yang hits

Rasanya? Maknyus pastinya. Kami berdua makan masing-masing satu mangkuk mie yang panas. Tempe dan aci gorengnya terlihat tidak segar, jadi kami hanya menambah sate 5 tusuk saja. Murah meriah, nikmat dan cukup mengenyangkan. Maka perjalanan selanjutnya dapat dilanjutkan dengan nyaman.

Untunglah kami sempat mampir di mie ongklok, karena makan malam sebenarnya hampir saja tidak jadi. Akibat rute memutar kami harus mencari makanan di kota kecil sebelum Dieng. Entah kota apa tetapi pada sekitar jam 8 malam sampai disana sudah tidak ada lagi restoran yang buka. Satu-satunya yang masih buka dan tampak bersih adalah warung si Gondrong. Pria berambut panjang sepinggang itu yang langsung memasakkan pesanan kami: nasi goreng pakai telur, karena ayam juga sudah habis.
Pepaya Mini (Carica),
hanya ada di Dieng
Anak saya agak pemilih pada makanan, walaupun makan di warung dia harus merasa enak. Syukurlah, nasi goreng si Gondrong ini lezat dan tidak berminyak. Porsinya lumayan dan kami habiskan. Teh panasnya juga legit, rasa tehnya khas kota-kota kecil. Lekat dan wangi. Dan semuanya itu hanya menghabiskan Rp 25 ribu perak saja. Satu porsi nasi goreng hanya Rp 10.000 kalau pakai ayam. Tuhan memang baik. Makanan kami tercukupi dengan sehat dan enak, sehingga perjalanan yang masih lama ke Dieng bisa kami nikmati tanpa kelaparan.

Tanaman Kentang
Jalan raya yang gelap disertai hujan yang sebentar deras sebentar perlahan plus truk atau bis yang kadang tidak mau mengalah sebenarnya membuat perjalanan agak berbahaya. Tetapi dengan perlindungan Tuhan YME kami dapat sampai di Dieng sekitar jam 10 malam. Kami langsung diantar ke penginapan berupa rumah tinggal yang disulap menjadi guest house yang cukup baik dan bersih. Seperti info di internet, kamar mandi kami pun mempunyai air panas. Jam 11 malam saya  mandi dengan air hangat karena tidak tahan dengan badan yang lengket-lengket akibat keringat dan debu sejak Semarang.

Matahari Terbit dari Sikunir
Sejak awal pembicaraan dengan pihak travel guide, saya sudah merancang apa saja yang akan saya nikmati dan kunjungi selama di Dieng. Karena itu walaupun sangat lelah malam itu juga saya mempersiapkan pakaian dan barang yang akan dibawa untuk melihat matahari terbit (sunrise) esok pagi. Akibat takut terlambat bangun, saya malah terbangun setiap satu jam. Akhirnya jam 3 pagi saya benar-benar bangun dan bersiap-siap.
Sunrise dalam awan kelabu
Kami berangkat hampir jam 4, dan itu menurut saya agak terlambat. Saya sudah siap dengan irama berjalan anak saya sehingga agak khawatir terlambat melihat sunrise. Untuk menuju bukit Sikunir kami naik mobil dahulu hingga batas jalan berakhir. Namun beberapa ratus meter sebelum berakhir jalan kami terhalang panggung yang tampaknya dipasang untuk pesta esok hari. Penduduk memasang panggung begitu saja di jalan desa, akibatnya kami harus meninggalkan mobil dan berjalan kaki lebih awal.

Gunung Sindoro disapa pagi
Sebenarnya kondisi jalan dan jaraknya tidak sulit. Mungkin kalau pakai sepatu kets saya bisa berlari kecil. Pendakian ke bukit juga tidak melelahkan karena jalan setapaknya baik, tidak curam, ada pegangan di tempat yang licin dan cuaca dinginnya masih bisa diterima tubuh. Namun untuk anak saya yang jarang sekali berjalan di alam bebas, pendakian itu tampaknya melelahkannya. Terdengar nafasnya yang terengah-engah dan sempat meminta air minum. Sebelum pukul 5 pagi kami sudah sampai di bukit Sikunir yang rendah.

Guide kami menyarankan berhenti disitu saja. Ia khawatir kalau naik ke puncak yang lebih tinggi malah tidak keburu melihat sunrise karena masih berjalan naik. Ego saya sendiri ingin mendaki ke puncak yang lebih tinggi karena kabarnya pemandangannya lebih luas dan seperti ada di atas awan. Namun kondisi anak saya yang kelelahan mengurungkan niat saya. Ini adalah liburan untuknya, jadi saya sudah bertekad memberikan apa yang nyaman baginya.

Kami berdua duduk di bebatuan, menghadap ke bentangan gunung-gunung tinggi dan lansekap kota di bawahnya yang masih biru gelap. Ibu dan anak yang jarang bepergian berdua saja ini mengobrol sambil menggigil kedinginan. Kamera sudah disiapkan, bahkan anak saya sudah mulai membidik kesana sini. Dia memang punya sense of photography jauh lebih baik dari saya. Siluet gunung Sindoro, gunung Sumbing yang bersembunyi di belakangnya, dan dua gunung lain yang lebih jauh menambah kemisteriusan ciptaan Tuhan. Terlihat pula kerlap kerlip sinar senter di dekat puncak Sindoro. Hmm... beberapa pendaki gunung sedang mencoba mencapai puncak Sindoro rupanya. Mendadak saya rindu mendaki gunung.
Bulan kesiangan

Saat melihat awan-awan gelap, saya sudah siap akan menyaksikan terbitnya matahari yang tidak golden seperti biasa dipromosikan di internet. Benar saja. Perlahan matahari muncul namun warnanya tidak kuning emas, tetapi jingga. Semburat warnanya menyebar ke berbagai arah. Keindahannya memukau, membuat kami berdua hanya bisa berdecak kagum sambil terus mengabadikan melalui kamera. Bulan penuh mengapung tinggi di atas kepala kami. Semoga foto-foto di halaman ini dapat menggambarkan keindahan sunrise di Sikunir.
My Sunshine <3

Usai menyaksikan matahari terbit guide kami menyarankan agar pulang ke penginapan untuk sarapan. Namun saya mengusulkan untuk melihat Telaga Warna mumpung hari masih pagi. Bagi penggemar fotografi bidikan terbaik justru di pagi hari seperti saat ini. Sebelum jam 7 pagi kami sudah sampai di Telaga Warna yang jaraknya memang cukup dekat dari Sikunir. Usul saya sangat tepat, karena suasana di sekita Telaga Warna masih sangat sepi. Keadaan ini menguntungkan kami sehingga dapat mengambil foto-foto pemandangan tanpa gangguan orang lain. Inilah pertama kalinya saya melihat danau yang permukaan airnya meletup-letup tanda aktif danau vulkanik.
Letupan-letupan kecil di Telaga Warna
Kami berjalan memutari danau sambil melihat beberapa patung, dan menjumpai spot foto yang cantik yaitu pemandangan tepi danau yang tampak simetris dengan bayangannya di danau karena sinar matahari yang pas. Di kawasan yang sama, bersebelahan dengan Telaga Warna, terdapat Telaga Pengilon yang artinya cermin. Kata guide kami, dinamakan demikian karena airnya sangat bening sehingga bisa bercermin. Akibat musim hujan di bulan kemarau ini maka air danau sangat keruh.
Embun di atas padang ilalang


Namun lapisan kabut yang melayang di atas ilalang di pinggir danau dengan titik-titik embun di helai daun ilalang sangat memukau. Tambahan lagi, udara segar di kawasan ini sungguh menyegarkan paru-paru yang sudah lelah dengan udara Jakarta.

Menu sarapan pagi kami berupa nasi goreng plus telor mata sapi khas Dieng plus kerupuk. Kata anak saya inilah nasi goreng terenak yang pernah ia makan. Agak lebay memang, mungkin saking kelaperannya dia. Usai sarapan dan packing barang kami mengunjungi situs-situs bersejarah berupa candi-candi. Di kompleks candi sedang ada persiapan Dieng Culture Festival. Matahari yang menyorot terik berpadu dengan udara dingin membuat wisata kami tidak terasa melelahkan, hanya membuat kulit gosong :D

Telaga Warna
Kalau ke dataran tinggi Dieng tidak sah apabila tidak melihat kawah Sikidang. Terbiasa melihat kawah di gunung Tangkuban Perahu yang jauuuuh di bawah dan kolam-kolam magmanya yang terpisah-pisah membuat saya terkagum-kagum dengan kawah disini. Sekitar kawah hanya dibatasi pagar kayu, dan kita bisa melihat jelas magma di kawah yang berwarna abu-abu dan meletup-letup dengan asap di atasnya. Persis kompor raksasa. Sungguh beruntung kita punya Sikidang. Kabarnya kawah ini dinamakan Sikidang (Kijang) karena "melompat" dari lokasi sebelumnya yang terletak lebih ke bawah, ke arah pintu masuk. Hebat.

Kawah Sikidang
Kunjungan singkat ke Museum Kailasa sangat berguna bagi kami untuk memahami Dieng seutuhnya. Salut pula pada petugas museum yang tetap memutarkan film tentang Dieng Plateau walau penontonnya hanya saya dan putri saya. Keluar dari museum kami langsung 'jajan' french fries khas Dieng yang terkenal dengan kentangnya, dan jamur goreng. Belakangan saya menyesal karena menurut teman saya hampir 90% tanaman kentang di Dieng menggunakan pupuk kimia yang berlebihan.
Tuk Bima Lukar

Sebelum meninggalkan Dieng, kami mengunjungi situs mata air purba bernama Tuk Bima Lukar yang dipercaya sebagai ramuan awet muda. Saya tidak seputus asa itulah sehingga mau saja mencuci muka disana. Cukup dengan memotretnya saja sudah terasa saya semakin muda. Hahaha. Mata air ini terletak di kanan jalan gapura masuk Dieng. Ini adalah hulu dari sungai Serayu yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di Dieng. Kalau kelak kaki saya terlihat lebih muda dari umur saya maka itu akibat mencuci kaki di Tuk Bima Lukar.
Jalatunda


Terakhir kami mengunjungi sumur Jalatunda yang konon sangat misterius. Sumur yang lebih seperti danau kecil dikelilingi semak belukar ini tidak diketahui dalamnya dan tidak ada yang berminat pula mengukurnya, mungkin karena berbagai kisah mistik seputarnya. Konon pernah ada lelaki yang begitu saja berjalan ke pinggir sumur dan melompat ke dalamnya. Bagaimana dia bisa berjalan kesini, itu pertanyaan saya. "Biasanya orang ini dituntun oleh suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri," ujar guide kami. Oh, okay. Saya tidak pernah percaya kisah-kisah seperti ini, namun kearifan lokal beginilah yang biasanya melindungi keindahan di balik suatu keajaiban alam. Siapa tahu ada emas atau barang tambang lain di dalam sumur kan? Kalau digali mungkin bisa menambah kekayaan desa ini atau malah merusak lingkungan sekitarnya. Hmm..

Yogyakarta dan Solo
Yogyakarta sangat tidak ramah kali ini dibanding dengan kota Solo. Namun keramahtamahan teman lama saya, mbak Diding, membuat kami agak kerasan. Malam pertama di Jogja kami menginap di rumahnya yang hanya 5 menit berjalan kaki dari stasiun KA Tugu. Rumah yang terhitung berusia tua ini berudara sejuk menjadi pelabuhan kami dari hawa Jogja yang agak panas. Lokasinya menguntungkan untuk memesan tiket ke Solo dan Jakarta serta mencari makanan.

Malam kedua kami menginap di hotel Pop! yang baru di kawasan Tugu. Hotelnya bersih, sarapannya lezat dan ringkas karena berupa nasi + lauk dibungkus daun. Namun karena Jogja penuh oleh turis domestik dan tukang becaknya jarang yang ramah, maka kami bersyukur sudah merencakan perjalanan ke Solo.

Seni di Malioboro
Kami berangkat ke Solo menggunakan kereta api berAC yang tarifnya Rp100ribuan di pagi hari. Penjual tiket seperti tak tega dan menawarkan tiket yang lebih murah karena perjalanannya hanya satu jam katanya. Dia tidak mengerti kalau kami ingin masih segar sampai di Solo yang wisatanya pasti makan tenaga. Seperti juga di Semarang dan Jogja, kami menggunakan jasa abang becak untuk mengunjungi tempat-tempat wisatanya. Segera saja kami berdua jatuh cinta pada Solo. Mungkin karena mengetahui Gubernur DKI kami yang baru dan hebat, Jokowi, itu berasal dari Solo ya.

Apa yang dibuat Jokowi di Jakarta kami jumpai di Solo. Kursi-kursi taman di trotoar. Jalanan bersih tanpa sampah. Trotoar yang lebar dan rapih. Lampu-lampu jalan. Street art. Satu hal yang belum dibuat Jokowi di Jakarta tapi ada di Solo. Fasilitas charger telepon selular di stasiun kereta api Solo Balapan. Sayang, kami tidak sempat memotretnya. Andai tersedia pula di Gambir, hidup akan terasa lebih indah. Betul tidak teman?

Kunjungan kami ke Solo yang dari jam 9 sampai 4 sore sangat berkesan. Selain mengunjungi istana Mangkunegaran Solo di tengah rinai hujan, kami juga melihat-lihat berbagai barang antik menarik di Pasar Triwindu. Menurut saya obyek foto yang unik dan menarik salah satunya adalah suasana dan aneka barang dagangan di sebuah pasar.

Desa Kauman
Di Triwindu kita bisa menemukan barang antik yang bagus maupun sekedar rantang kaleng, setrika ayam, gerendel pintu kuno, piringan hitam, tea set dengan motif bunga-bunga yang saya ingat ada di rumah almarhum nenek di Bandung, dan macam-macam lagi. Kami puas memotret di pasar ini, walaupun tidak membeli satupun barang karena memang tidak butuh.

Obyek wisata lain yang menarik, diluar berbelanja batik di Pasar Klewer, adalah kampung batik Kauman. Di kawasan ini terdapat rumah-rumah yang berdempetan dengan arsitektur kuno di sepanjang jalan-jalan kecilnya. Kadang-kadang becak melintas berisi orang membawa tumpukan kain atau baju batik. Suasana sepi siang itu. Kami seperti memasuki ruang waktu silam. Sayangnya, tidak ada lagi pengrajin batik di rumah-rumah ini. Kabarnya, semua sudah terpusat di salah satu rumah batik terbesar yang tidak mengundang selera kami berbelanja karena barang-barangnya tidak terlalu bagus serta harganya relatif mahal.

Membatik di Kain
Tetapi di rumah batik itulah kami dapat menyaksikan orang mengerjakan proses pengerjaan kain batik. Mulai dari proses batik celup, batik printing, batik tulis, penjemuran kain batik yang sudah dimotif, dan alat-alat pencelupannya. Untuk anak saya ini adalah hal yang sama sekali baru. Kalau membatik di kain sudah pernah ia lakukan saat usia SD. Kunjungan seperti kami ini memang menjadi bagian dari paket wisata di Solo, termasuk belajar membatik tulis.

Kembali ke Jogja kami disambut keramaian tiada tara akibat kunjungan berbagai sekolah karena memang saat ini sedang libur panjang sekolah-sekolah di berbagai kota. Demi selera anak saya yang "tidak mainstream" maka saya merelakan untuk tidak mengunjungi tempat-tempat semacam keraton, candi-candi dan sebagainya. Selain memang anak saya baru saja mengunjunginya pada tahun lalu, juga karena enggan membayangkan keramaian tempat-tempat tersebut. Kayak cendol, kata anak saya.

Dapur Sejak Dahulu Kala
Sebaliknya saya mencoba mengasah jiwa entrepreneur anak saya dengan mengajaknya ke pusat gudeg Yu Jum. Inilah warung pertama Yu Jum membuka usahanya, sekaligus tempat tinggalnya. Kendati sudah terkenal dan gudegnya dikirim ke berbagai kota di Indonesia dari tempat ini, namun Yu Jum yang sudah berusia 85 tahun masih ikut bekerja di warungnya. Wanita tua yang tidak pernah pikun ini terlihat asyik merobeki daun pisang bersama pegawai-pegawainya.

Yu Jum

Waktu makan siang kami di Gudeg Yu Jum sudah terlambat, tapi rumah makan masih ramai. Pesanan gudeg dengan ayam tinggal satu porsi --memang rejeki anak saya--, semua tahu dan tempe habis. Jadi untuk saya cukup pakai krecek, nangka dan telur; ditambah sebungkus untuk dibawa pulang. Karena prinsip saya: kalau di Jogja sering-seringlah makan gudeg :) Syukurlah, anak saya menyukai rasa gudegnya dan sangat senang bisa melihat kesibukan di warung tersebut. "Ini baru ngga mainstream," katanya.

Kunjungan terakhir kami di Jogja adalah kantor Yayasan Dian Desa, sebuah LSM terkenal yang bergerak di bidang lingkungan hidup, pemberdayaan rakyat dan lain-lain. Disana kami melihat pembuatan barang dari bahan kulit ikan pari; mulai dari pembersihan, penjemuran, pewarnaan, hingga menjadi mendesain dan membentuk bahan kulit ikan pari menjadi barang seperti dompet, tas, ikat pinggang, hiasan dan sebagainya.


Barang-barang buatan tangan ini mempunyai harga yang tidak murah, namun bergaransi seumur hidup. Pembelinya pun tak sedikit yang datang dari luar negeri. Karena masih terhitung teman, maka saya diberi harga spesial untuk sebuah dompet cantik. Lumayan. Yayasan ini memiliki banyak desa binaan dan anak asuh. Saat Gunung Merapi meletus, Dian Desa juga bergerak mengumpulkan dan menyalurkan bantuan berupa pakaian, makanan, selimut dan obat-obatan.


Meja ini dilapisi kulit ikan pari
Sepulangnya dari tempat itu, kami diantar teman saya ke hotel sambil mampir di hotel baru yang mewah, Tentrem. Pemiliknya adalah pengusaha jamu Jago yang terkenal, dulu pernah saya wawancarai. Kami juga membeli oleh-oleh --yang dimakan habis di kereta api-- khas Jogja yaitu kue pia. Tokonya baru, tak jauh dari Tentrem, ukurannya lebih besar dari pia yang hits itu, rasa kuenya lebih enak, apalagi baru dikeluarkan dari oven. Kami berdua sibuk makan pia hangat selama perjalanan ke hotel. Dan beberapa butir yang tersisa pun habis dalam perjalanan pulang kami menuju Jakarta, di kereta api malam Taksaka. ***

Foto-foto: Koleksi Pribadi

*Terimakasih tak terhingga untuk teman semasa SMPku, mbak Diding, dan rekan sesama pencinta alam Mahitala Unpar, kak Elly Wu, atas kesediaan menerima dan menjamu kami di Jogja. Salam.*


Pesona Unik di Utara Makassar


Ampiri adalah sebuah dusun yang terletak di lereng bukit Coppo Tile, desa Bacu Bacu, kecamatan Pujananting, kabupaten Barru, di Makassar, Sulawesi Selatan. Bayangkan teman baru saya di dusun ini kalau menuliskan alamat lengkap rumahnya di amplop surat atau formulir lain. Panjang dan banyak; kontras dengan jumlah penduduk di dusun ini  yang hanya sekitar 1.500 orang.

Untuk mencapai dusun Ampiri saya harus berkendara empat jam atau sekitar 160-an km ke arah utara kota Makassar, ibukota Sulawesi Selatan. Perjalanan langsung dilakukan setelah pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Begitu kendaraan sewaan datang, kami --saya dan 3 teman di tim proyek ini-- langsung berangkat menuju kabupaten Barru. Hanya sekali kami mampir untuk makan siang di restoran bernama Rumah Makan Tujuh Tujuh di daerah Pangkep.


Restoran sederhana ini menyajikan sop saudara dan ikan bakar masakan khas Makassar yang terkenal dengan ikan bandeng-nya itu. Sepanjang perjalanan menuju Pangkep ini memang terlihat banyak tambak-tambak ikan di tepi jalan yang membatasinya dengan laut.

Tampaknya rumah makan Tujuh Tujuh lumayan terkenal. Karena walaupun semua peralatan makan dan meja-kursinya tidak mewah namun banyak pegawai negeri --terlihat dari baju seragamnya-- dan pebisnis-pebisnis daerah makan siang disini. Di dinding restoran terpajang foro-foto dan tanda tangan para artis Indonesia yang pernah makan disini.

Sop saudara (right)
Saking laparnya, saya tidak berminat melihat siapa saja artis itu. Hidangan di depan saya lebih menyita perhatian. Nama sopnya aneh ya, sop saudara, tapi rasanya jangan tanya. Gurih dan lezat sekali. Ikan bandeng bakarnya pun enak, terutama karena segar-segar dan ukurannya besar. Sambalnya khas karena pakai kacang dan rasa pedasnya mantap.  Kapanpun sempat ke Makassar, singgahlah ke rumah makan ini.

Sebenarnya perjalanan bisa ditempuh dalam waktu yang lebih singkat, tetapi kondisi jalan raya utama ini tidak selalu mulus. Ada saja halangannya; ada yang salah satu sisinya masih dalam pengerjaan sehingga kendaraan harus bergiliran lewat. Atau jalan rayanya hotmix yang mulus sehingga mobil bisa dipacu kencang tapi lalu tiba-tiba menjadi rusak selama beberapa meter. Semua jenis kendaraan melalui jalan ini, mulai dari sepeda motor sampai truk-truk berukuran besar. Kata sopir kami jalanan yang rusak itu malah ada yang sudah bertahun-tahun kondisinya seperti itu.

Pebukitan dan tambak bandeng
Nun jauh di sebelah kanan jalan tampak bentangan pebukitan batu yang terkadang beberapa bukitnya tampak putih, setengah tubuhnya sudah terkikis. Itulah wilayah pabrik semen Bosowa dan Tonasa. Pebukitan itu tempat bahan baku produksi semen mereka; tampak gersang dan menyedihkan dari jalan raya ini; apalagi hasil semen mereka sepertinya tidak sampai ke jalan raya yang tentunya sarana transportasi penting bagi mereka juga.




Menuju Bacu-bacu

Angkot Off-road
Mobil sewaan kami hanya mengantar sampai Doi doi, desa beraliran listrik terakhir sebelum menuju Bacu-bacu. Sejak awal tim kami sudah diwanti-wanti untuk bersiap diri harus berjalan kaki dari Doi-doi ke desa sejauh 13 kilometer di atas bukit selama sekitar 5 jam karena kondisi jalan tidak layak dilalui kendaraan di kala hujan. Itu sebabnya saya membawa carrier atau ransel 35 liter dan memakai sepatu hiking. Kontras dengan penampilan tiga teman saya yang semua bawa tas travel biasa dan ada yang hanya pakai sandal "crocs". Memang ada kendaraan umum untuk sarana transportasi penduduk yang akan turun dan kembali ke desanya di gunung tetapi tidak terlintas di pikiran saya kalau akan naik mobil angkutan umum ini. Perjalanan naik angkot lebih singkat, sekitar 1 jam saja; ongkosnya Rp10 ribu per orang. Kalau naik ojek motor perjalanan juga makan waktu 1 jam.

Langit di atas Bacu-bacu
Tampaknya teman-teman saya memilih untuk naik angkutan umum yaitu sejenis minibus bermuatan 7-8 orang. Namun kami harus menunggu sampai senja turun agar mendapatkan sopir kendaraan yang piawai ber-off road di sepanjang jalan.Walau agak sedikit kecewa karena tidak jadi 'hiking', dalam perjalanan dengan angkot saya malah sangat bersyukur karena kondisi jalan yang kami lalui memang tidak menyenangkan pula untuk jalan kaki. Tidak ada jalan pintas melalui hutan atau kebun. Kalau lewat jalan kendaraan pasti harus banyak mengalah karena kondisinya yang buruk dan sempit. Badan kita bisa terpojok ke tebing atau terpepet sampai tepi jurang.

Sehabis shalat magrib angkot off-road kami pun berangkat. Ada sekitar 4 penumpang lain plus anak kecil usia 3 tahunan, anak si sopir, berdiri di belakang bapaknya. Langit semakin gelap saat mobil angkot mulai merendahkan kecepatannya akibat kondisi jalan yang mulai berbatu-batu. Lobang jalan yang kecil-kecil semakin lama berubah menjadi jalanan yang berbatu besar-besar. Kombinasi antara jalan menurun sambil menghindari batu besar menyita setengah dari perjalanan kami. Bayangkan betapa tegangnya kami yang duduk di bangku belakang supir dan terus melihat ke jalanan di depan kami.

Seorang bapak di warung tempat kami menunggu angkot bercerita kalau jurang di rute kami ini sering menelan korban. Sudah sering mobil angkot terperosok ke dalam jurang dengan korban tewas tak sedikit jumlahnya. Karenanya saat melewati daerah yang berjurang, doa yang saya kumandangkan dalam hati semakin keras. Jalanan tanpa penerangan sama sekali semakin menambah ketegangan seisi angkot. Penumpang lain yang tampaknya sering mondar mandir menggunakan angkot juga duduk dengan diam. Tak terdengar obrolan mereka yang sebelumnya hangat. Saya yang sudah mulai percaya pada kepiawaian si sopir juga kembali deg-degan melihat kondisi jalan dan tepi jurang yang hitam.

Ampiri saat senja
Daerah ini sudah lama tidak turun hujan namun di beberapa titik jalan kondisinya becek dan berlumpur. Ternyata ada pipa air yang bocor dan airnya melimpah hingga ke jalan. Bahkan ada yang sedang mencuci mobilnya di dekat pipa tersebut. Jalanan yang sudah tidak karuan semakin membahayakan karena licin. Acapkali sopir kami menggunakan kecepatan nol, alias bermain kopling dan rem untuk melalui batu-batu besar dan tajam di jalan menurun, berbelok-belok bahkan tiba-tiba menanjak drastis. Bener deh, mendingan naik roller coaster daripada naik angkot ini! Hebatnya lagi, bocah si sopir tadi tertidur pulas di punggung bapaknya di tengah perjalanan.

Namun semua dapat terlampaui dengan selamat. Dua desa sebelum tujuan kami tampak pemandangan menarik. Sejumlah anak muda yang memarkirkan motornya di pinggir jalan sedang sibuk bertelepon dengan handphone-nya. "Ini tempat kita bisa menemukan sinyal, di bawah sudah tidak bisa," kata seorang penumpang pada kami. Wow! Saya semakin bergairah mendengarnya, sekaligus khawatir. Saya belum pernah tidak terjangkau sinyal, tapi bagaimana kalau ada apa-apa dengan keluarga dan saya tidak bisa dihubungi? Hmmm...


Sampai di dusun Ampiri kami disambut teman yang menjadi nara sumber tulisan dan dokumentasi kami; Harianto atau dipanggil Anto. Rumah panggung sederhana milik orangtuanya menjadi tumpangan kami hingga 3 hari ke depan. Penerangannya yang suram tidak menghalangi kami untuk berbincang-bincang, makan malam, cuci-cuci lalu tidur. Eh, makan malamnya nikmat sekali lho. Ada ketupat, nasi putih dari sawah sendiri, ikan dan lain-lain. Ibu sudah lama tidak ke pasar jadi tidak ada sayur. Tak mengapa, tidur saya nyenyak sekali malam itu karena kekenyangan.

Terangi Desa
Anto masih kuliah di Universitas Negeri Makassar, fakultas kimia. Namun ia memiliki kepedulian tinggi pada desanya. Di usianya yang masih muda Anto sudah menjadi pahlawan bagi masyarakat dusun kelahirannya karena membuat pembangkit listrik menggunakan kincir air sederhana. Atas usahanya dusun Ampiri yang sudah lebih dari 30 tahun tidak mempunyai listrik menjadi terang benderang. Perusahaan Astra Indonesia memberi penghargaan kepada Anto untuk jasanya tersebut. Selengkapnya tentang hal ini bisa dibaca di laman Facebook Astra.

Musim kemarau yang panjang di daerah Ampiri dan sekitarnya tidak membuat sungai menjadi kering. Saya menyusuri pematang sawah-sawah yang kerontang saat menengok sungai yang menjadi sarana penerangan dusun tersebut. Debit air memang kecil tapi kekuatannya masih cukup untuk menerangi desa. Untuk penerangan rumahnya sendiri yang masih suram Anto mengakui dia hanya belum mengganti lampu pijarnya karena harus membeli di kota.

Beberapa kerbau tampak mencari makan di tengah sawah. Langit biru di atas Ampiri begitu indah. Udara pagi hari pun terasa dingin menusuk. Setiap malam angin bertiup kencang, membuat berisik suara atap seng rumah. Namun saya selalu tertidur pulas, sendirian di kamar tuan rumah. Orangtua Anto mengalah tidur dengan anaknya di dekat dapur karena tidak mau saya tidur bersama-sama para teman pria di ruang tamu.

Pagi hari di Ampiri
Penduduk dusun Ampiri ramah-ramah. Mereka jarang bisa berbahasa Indonesia dan saya tidak mengerti bahasa Makassar. Tapi mereka penuh pengertian, tidak memandang dengan aneh atau heran, cenderung pemalu dan senang memberi. Tiga hari hidup di dusun tanpa sinyal dan penerangan yang maksimal ternyata tidak mematikan selera makan saya. Apapun yang dihidangkan ibunya Anto selalu kami lahap dengan nikmat. Kopi makassar yang terkenal pun kami dapatkan dengan mudah di warung tetangga.

Kegiatan dokumentasi berjalan lancar karena walaupun sedikit pemalu, penduduk Ampiri cukup informatif dan kooperatif. Kehidupan yang cukup keras karena kondisi infrastruktur jalan, penerangan dan lahan yang kering tidak membuat wajah mereka dingin. Rasa syukur dan optimisme, itu yang menurut saya membuat penduduk Ampiri tetap survive sejak dahulu saat gelap gulita hingga kini sudah menikmati aliran listrik.

Oleh-oleh khas dusun ini adalah gula merah yang keras dan tebal sebesar batu bata serta madu. Keduanya manis asli; sangat manis namun tidak membuat sakit gigi. Madunya dikemas dalam botol dan saat saya minum masih ada serat-serat sarangnya. Menyegarkan!

Kerajinan cobek & nisan di Kab. Barru
Perjalanan pulang di pagi hari membuat kami dapat menelusuri kondisi jalan dan keadaan sekitarnya. Memang, lebih baik melintasi jalan itu dalam kondisi gelap karena tidak keseluruhan badan jalan yang terlihat. Namun pemandangan di kiri-kanan jalan yang indah sangat menghibur mata dan hati saya.

Lepas dari jalanan off-road kami melewati sebuah desa yang berjualan kerajinan dari batuan yang banyak tersebar disitu. Agak seram sebenarnya, karena salah satu hasilnya adalah batu nisan; selain cobek. Kabarnya, kerajinan ini terbukti kuat dan tahan lama.


Di kabupaten Baru ini juga ada harta terpendam lho. Batuan marmer sebesar-besar truk mini seperti dilemparkan penciptaNya di pebukitan. Beberapa yang sudah terkelupas karena dipotong, tampak berkilau tertimpa matahari. "Itu mahal sekali kalau dijual," kata sopir kami.



Makassar


Kota yang sempat berganti nama menjadi Ujung Pandang ini memiliki benteng layaknya kota-kota bekas jajahan Belanda yang terletak di tepi laut. Namanya Fort Rotterdam. Tipe bangunan dan suasana Fort Rotterdam hampir mirip di benteng Vredeburg di Jogjakarta; hanya sedikit lebih luas dan ada museumnya yaitu Museum La Galigo.

Sebagai penyuka kota tua dan bangunan-bangunan tua saya langsung menyesal tidak membawa kamera yang 'sungguhan' agar puas membidik angle-angle menarik di Rotterdam ini. Namun beberapa hasil bidikan kamera BB saya cukup menghibur hati karena tempatnya memang bersih, warna bentengnya bagus, rapih dan langit Makassar sedang sangat biru. Sayang, saya tidak sempat mencoba naik becak Makassar yang ukurannya seperti becak Malang ini.

Biasanya turis juga tidak lupa mengunjungi pantai Losari dan makan pisang epe disana. Sejujurnya pantai ini biasa sekali. Apalagi tepiannya adalah pagar tembok, bukan pasir pantai. Pemandangan di hadapan kita pun bukan ombak besar atau pulau indah. Namun menyaksikan matahari tenggelam di pantai ini cukup menghibur hati yang kecewa akibat melihat sampah-sampah di bawah tembok pantai. Mungkin pemerintah setempat bisa lebih memperhatikan kebersihan di tempat ini untuk kenyamanan wisatawan.

Nah, kalau sudah berada di Makassar jangan lupa wisata kuliner. Selain makan ikan bakar, cotto makassar dan kue-kue basahnya yang lezat, cobalah ke kedai kopi Phoenam. Kedai ini terkenal ke seantero nusantara karena kopinya nikmat, terutama kopi susunya.

Saat kami datang si pemilik sendiri yang meracik pesanan kami. Kabarnya, pejabat-pejabat tinggi dan orang terkenal paling suka ngopi disini, termasuk Jusuf Kalla, mantan wakil presiden RI. Tempatnya sendiri sederhana, tidak ada sofa atau wi-fi seperti cafe-cafe di Jakarta. Kursinya sederhana. Tidak ada AC. Namun pengunjungnya tak pernah sepi. Kopi Makassar memang terkenal enak selain kopi Aceh, Mandailing dan Papua. Mau coba? Segeralah terbang ke Makassar :)

*Makassar trip, 2012*





Jumat, 12 Juli 2013

Wisata Kota Lama di Semarang

Seri 1 MomDaughter's Backpacker

Halte Kota Lama
Sudah pernah ke Semarang?
Kalau sudah, apakah mengunjungi kota lama termasuk dalam daftar kunjungan Anda?
Pasti Anda bertanya: untuk apa? Apa yang menarik dari kota lama yg tua? Bukankah malah menyeramkan, melihat gedung-gedung lawas tak terurus yang penampilannya menyedihkan dengan lumut dan kerak-kerak cuaca, atau terlihat mengenaskan karena dibiarkan begitu saja tidak digunakan tetapi juga tidak diperbaiki?
Terlantar

Memang betul. Karenanya, wisata ke kawasan kota lama atau kota tua dimanapun, di dalam dan luar Indonesia, sungguh membutuhkan mata yang 'tidak biasa'. Mata yang tidak sekadar melihat penampilan luarnya yang tua dan menyedihkan, namun mampu melihat keindahan dan keunikan bangunan tersebut. Mata yang dapat menangkap keanggunan dibalik kecantikan yang tergerus waktu.
Salah satu mural di kota lama

Semarang memiliki kota lamanya sendiri seluas sekitar 31 hektar. Menurut Wikipedia, kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya dan nampak seperti kota tersendiri sehingga mendapat julukan Little Netherland. Kawasan kota lama (Outdstadt - bhs Belanda) Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda selama lebih dari dua abad. Lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi dan perdagangan.

Gereja Blenduk
Ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh, meski tampak renta, dan mempunyai sejarah kolonialisme di Semarang.
Sebagaimana kota lama di Jakarta, di Semarang pun tidak semua bangunan tuanya bernasib buruk alias tidak dipedulikan. Atau kita anggap saja pemerintah belum mempunyai dana untuk merenovasi semua bangunan tua itu ya; bukan tidak dipedulikan. Gereja Blenduk, misalnya. Nama aslinya adalah Nederlandsch Indische Kerk (kerk=gereja, bhs Belanda, red.).
Gereja yang dibangun tahun 1753 dan merupakan salah satu landmark kota lama ini masih berfungsi sebagai gereja GPIB Immanuel. Gereja ini memiliki atap berbentuk kubah berwarna merah bata yang terbuat dari perunggu serta dua menara kembar di depannya. Masyarakat pribumi dulu kesulitan mengucapkan nama dalam bahasa Belanda tadi sehingga menyebutnya dengan blenduk saja; asal kata mblenduk (mengembang ke atas) untuk menandai kubah besar berbentuk setengah bola itu.
Orgel Barok
Dari ballkon
Foto utuh bangunan gereja bergaya Neo-klasik ini banyak terdapat di internet, karena itu kami mengambil angle foto yang tidak biasa. Tambahan lain adalah foto interior gereja yang kebetulan berhasil dibidik karena gereja sedang tidak digunakan. Hanya ada seorang penjaga yang mengantarkan kami melihat-lihat bagian dalam gereja. Setelah selesai mengambil foto dan hendak keluar gedung si penjaga meminta Rp10.000 per orang sebagai tiket masuk. Katanya sih untuk pemeliharaan gereja. Hmmm...


Blenduk

GPIB Immanuel ini masih dipakai untuk kebaktian para penganut Protestan dengan kapasitas 400 jemaat. Selain untuk kebaktian, gereja juga difungsikan untuk acara pemberkatan pengantin.

Marabunta & Becak kami
Bangunan lain yang tak kalah megah dan bersejarah adalah Gedung Marabunta yang terletak di jalan Cendrawasih nomor 23. Gedung yang awalnya bernama Schouwburg ini merupakan satu-satunya bangunan pertunjukan berbentuk bulat telur. Ia juga memiliki ciri unik yaitu adanya patung semut raksasa di atapnya. Tanggal berdiri gedung ini belum dapat dipastikan, demikian menurut berbagai sumber, namun tahun 1854 di kalangan masyarakat Eropa ada pementasan tetap yang berlangsung sebulan sekali. Kemungkinan besar Marabunta sudah ada saat itu dan dipakai untuk mementaskan karya seni drama. Dugaan juga diperkuat dengan gaya bangunan lengkung busur dan kolom langsing  yang disukai pada masa itu. Sistem dinding penyangga dan pasangan bata di atas ambang pintu maupun jendela juga dapat memperkuat dugaan tersebut.

Kabarnya gedung Marabunta ini pernah menjadi tempat pertunjukan seorang spionase wanita cantik bernama Matahari. Dalam perkembangannya nama Marabunta lebih sering dipakai daripada Schouwburg karena adanya patung semut tersebut. Fungsinya sebagai gedung pertunjukan berakhir pada masa awal kemerdekaan. Lalu sempat dijadikan kantor yayasan dan akhirnya direkonstruksi pada tahun 1995. Hasil rekonstruksi adalah gedung dibelah menjadi dua dan yang tampak dalam foto ini adalah Marabunta baru yang berada di sisi selatan.
Marba tahun 1910
Saat memasuki jalan Letjen Suprapto mata kita pasti langsung tertuju pada bangunan berwarna merah bata ini, Gedung Marba. Gedung yang dibangun pada pertengahan abad 19 ini merupakan bangunan dua lantai dengan tebal dinding sekitar 20 cm.
Pembangunannya diprakarsai oleh Marta Badjunet, seorang warga negara Yaman yang adalah saudagar kaya pada jaman itu. Untuk mengenang jasanya bangunan itu dinamai singkatan namanya, Marba. Namun awalnya gedung ini bernama De Heeren Straat dan digunakan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Selain itu digunakan pula untuk toko yang modern dan satu-satunya pada waktu itu, De Zeikel.

Sayang sekarang kabarnya gedung cantik ini dijadikan gudang. Bayangkan kalau ia menjadi gedung pertunjukan teater dan seni budaya lainnya, ditata halaman depannya, mungkin tidak kalah cantik dengan stasiun tua di Melbourne, Australia. Usia gedung yang lebih dari 100 tahun terbukti dari foto di KITLV yang diambil tahun 1910 (foto di atas).

Bangunan berwarna merah bata dengan pintu-pintu tinggi ini adalah gedung PT Pelni. Terletak di jalan Mpu Tantular juga seperti Bank Mandiri dan Djakarta Lloyd, gedung ini dibangun pada awal abad 20. Semula bangunan ini ditempati oleh NV Bouwmaatschapij, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi muatan kapal laut. Gedung ini berada di tepi sungai/kali Semarang; pada foto ada di bagian kiri, seberang jalan. Pada jaman itu bisa dilayari kapal berukuran besar, sehingga kapal dapat merapat dan bongkar muat di depan kantor. Hebat ya!
Stasiun KA tertua di Indonesia
Stasiun kereta api Tawang termasuk bangunan bersejarah di Semarang. Dibangun pada tahun 1911, bangunan yang anggun dan berkarakter Romanticism yang populer di Eropa pada masa itu. Stasiun ini mempunyai bangunan utama yang beratap kubah tinggi serta memiliki sayap-sayap bangunan di kanan-kirinya yang didomimasi oleh atap pelana dari genteng merah dengan buka-bukaan atap sebagai variasi (sumber: indonesianheritagerailway.com).



Bangunan di sayap kiri 
Bentuk bangunan yang simetris ini merupakan salah satu ciri arsitektur kolonial yaitu perpaduan antara langgam desain romanticism tadi dengan penyesuaian terhadap iklim lokal tropis melalui penggunaan atap pelana serta banyak bukaan untuk keluar masuk udara. Akibat banjir karena hujan dan rob, lantai bangunan harus dikeruk dan rel pun harus ditinggikan. Maka ketinggian bangunan ini sudah berkurang 1,5 meter.

Satu lagi bangunan yang lawas dan bersejarah adalah jembatan Berok atau Mberok. Nama sebenarnya adalah Gouvernementsbrug, lalu diganti menjadi Sociteisbrug. Orang pribumi sulit melafalkan Brug, maka disebutlah Berok, hingga sekarang. Seharusnya jembatan ini diulas paling awal karena dialah peninggalan Belanda yang mengantarkan kita melihat kota lama. Dulu jembatan ini berfungsi untuk menghubungkan kota lama atau Oudstandt dengan bagian kota yang lain.
Jembatan Berok

Jembatan yang melintas di atas kali Semarang ini dibentuk dari empat buah kolom utama dengan bentuk menyerupai obelisk, dan pada puncak kolom terdapat lampu yang cukup unik. Begitu melewati jembatan ini, berbelok ke kanan dan ke kiri jalan sudah berjajar bangunan-bangunan lawas Oudstandt; megah dan indah. Salah satu yang langsung berhadapan dengan Berok adalah gedung Bank Mandiri yang semula dipakai oleh Nederlandsche Hendel Maatschappij (tahun 1908). Di sebelah kiri gedung ini adalah bangunan PT Djakarta Lloyd. Namun saya hanya tertarik pada bentuk setengah kubah di bangunan itu.

Saksi Sejarah
Masih banyak lagi bangunan yang indah dan bersejarah di kota lama yang belum sempat saya kunjungi. Pabrik kretek Praoe Lajar, Bank Export Import Indonesia, PT Perkebunan XV dan lain-lain. Mungkin ada juga yang sudah saya jenguk namun karena keterbatasan informasi yang saya miliki serta ketiadaan informasi di kota lama mengenai 'warga'-nya maka terlewat begitu saja. Akan tetapi wisata ini menggoreskan banyak kenangan akan sesuatu yang berusaha dikembalikan ke bentuk asalnya dan sesuatu yang belum sanggup dirawat sebagaimana mestinya.
IBC terawat cantik
Persis di depan Gereja Blenduk terdapat rumah makan Ikan Bakar Cianjur (IBC) yang menempati bangunan berusia sekitar 200 tahun, konon. Apabila melihat bangunan ini rasanya ingin kita memperbaiki semua bangunan di kawasan kota lama menjadi tampak baru seperti ini. Cantik bukan?
Tanaman merambati atap dan pintu-jendela
Bangunan di ujung Jl. Merak
Lalu perhatikan bangunan di kedua foto ini. Struktur bangunan yang kokoh dengan dinding tebal dan atap yang khas berwarna abu-abu berpadu indah dengan warna hijau tanaman yang merambati bangunan. Ironis sekali bukan? Nuansa warna bangunan menjadi indah namun sebenarnya tanaman tersebut sudah merusak bangunan. Foto di sebelah kanan adalah bangunan di ujung jalan Merak --dulu bernama Noorderwalsstraat-- sebagai batas Utara kota lama Semarang. Foto sebelah kiri adalah tampak depan bangunan yang sudah tertutup tanaman, bahkan pohon.
Sepanjang jalan Merak terdapat bangunan-bangunan lama lain yang sudah berubah fungsi antara lain menjadi hotel --tanpa mengubah bangunan-- juga kantor Suara Merdeka, harian terkenal di Jawa Tengah. Untunglah ada jalanan yang terbuat dari paving block dan pot-pot tanaman sebagai penengah jalan, sehingga kondisi bangunan ini tidak terlihat terlalu menyedihkan.
Kantor Gabungan Koperasi Batik Indonesia
Inilah salah satu contoh bangunan lama yang dibiarkan kosong dan tak terpelihara. Bangunan kantor GKBI ini terletak di jalan Mpu Tantular. Berdiri tahun 1930-an, gedung ini didirikan untuk Koperasi Pengusaha Batik mengingat pada waktu itu batik juga telah diekspor ke luar negeri. Saya hanya dapat membayangkan sebesar apa ruangan-ruangan di dalam bangunan ini. Pepohonan yang tumbuh tinggi menghalangi pemandangan langsung ke bangunan tersebut apabila melihatnya dari kendaraan. Dari internet diperoleh foto utuh bangunan ini jaman dahulu. 

Sebuah bangunan terselip di antara bangunan lawas lain di belakang gereja Blenduk. Di atas pintu utamanya tertulis R-ode Driehoek. Samar-samar terlihat huruf O, jadi seharusnya Roode Driehoek yang dalam bahasa Inggris artinya Red Triangle. Kondisinya tidak bagus, bahkan tampak tak dirawat apalagi dialihfungsikan. Pintu dan jendelanya yang besar dan berteralis serta bentuk bangunannya yang sederhana menandakan bangunan ini lebih menekankan fungsi bukan keindahan. Sungguh sulit menemukan sejarah bangunan ini di internet; tidak ada penjelasan apapun tentangnya. Tetapi kendati sekilas seperti bangunan biasa ternyata beberapa sumber menyebutnya benteng. Mengapa benteng letaknya di tengah-tengah bangunan lain ya? Dari internet saya menemukan fakta bahwa bangunan ini adalah bagian dari bangunan di sebelah kanannya dan diduga pada jaman kolonial berfungsi sebagai gudang.
Tampilan yang Menyedihkan
Entah apa yang menjadi pertimbangan pemerintah atau lembaga apapun yang merenovasi Little Netherland ini. Apa mungkin akibat kekurangan dana maka renovasi mendahulukan bangunan yang dialihfungsikan menjadi tempat bisnis lalu sisanya menjadi terlantar? Yang pasti bangunan ini paling menyedihkan penampilannya. Padahal dia terletak di samping gedung PT Pelni; bahkan jangan-jangan merupakan bagian darinya. Mungkin saking besar dan panjangnya gedung tersebut maka dibatasi saja bagian mana yang diperbaiki dan digunakan kembali, lalu sisanya dibiarkan berlumut, kusam dan jorok. Sungguh mengenaskan.
Secara umum karakter bangunan di wilayah Oudstandt ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna --bahkan kaca es pada bangunan Djakarta Lloyd--, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. Nah, yang terakhir ini kiranya dapat disurvei saat kunjungan berikutnya :)

Dalam kondisi tak terawat dan terancam banjir maupun rob setiap tahun, beberapa bangunan yang tetap berfungsi bagai terengah-engah mengikuti jaman. Perusahaan dengan nama campuran Indonesia-Belanda seperti di foto sebelah memilih berkantor di salah satu peninggalan bersejarah ini. 
Semoga interiornya lebih bagus dan terawat, namun eksterior bangunan ini cukup memilukan. Jelas terlihat jendela berkaca rayban itu adalah produk abad 20, namun ornamen pada pintu mencerminkan pengaruh gaya Eropa. Tetapi nasib Semarang Veem ini masih lebih baik daripada bangunan di kanan ini yang malah beralih fungsi menjadi bengkel.

Pernik Bangunan Lama dan Mural

Sebuah bangunan, terutama bangunan tua, tidak hanya penampilan gedungnya saja yang menarik. Pernak-pernik bagiannya, selain interiornya, juga tak kalah unik. Gaya dan usia sebuah bangunan lebih terlihat jelas apabila kita mengamati pintu, jendela, lubang angin, renda-renda di dindingnya, atau 'aksesoris' lainnya.
KantorPT Djakarta Lloyd ini misalnya, meskipun tampak tua (dibangun tahun 1930) namun lubang angin yang dibuat terangkai mengelilingi jendela tetap unik. Lubang angin juga bisa berbentuk bintang dan ada di daun pintu, seperti tampak di foto sebelah kiri ini. Lucu ya :)
Ini adalah bagian besar gedung tempat kantor Djakarta Lloyd berada. Bangunan ini berlantai dua tapi ada bagian yang berlantai tiga. Atap bangunan berbentuk limasan, dan bahan penutup atapnya adalah genteng yang didatangkan khusus dari negeri Belanda (sumber: semarangkotalama.blogspot.com).  Perhatikan balkon di tiap jendela dan jendela yang berbentuk bulat atau melengkung. Tampaknya gedung ini juga belum direnovasi karena di dekat atap sudah ditumbuhi semak-semak.

Bangunan di sebelah kanan ini mempunyai bentuk pintu seperti pintu gudang jaman Belanda yang juga bisa dijumpai di kompleks bangunan di jalan Gudang Utara, Bandung. Pagar lantai duanya berukir. Lubang angin berbentuk jendela bulat di samping bangunan pun tetap unik meski lantai balkonnya tampak tak terawat. Terlihat juga ada mural di dinding bangunan; bukan hal aneh, karena hampir semua bangunan di kawasan kota lama berhiaskan mural.
Kreativitas selalu mencari tempat, dimanapun itu. Demikian pula di kompleks bangunan tua di kota lama Semarang. Tembok-tembok bangunan yang bersih karena dirawat ataupun berlumut serta renta dimakan usia terlihat menjadi lebih berseri dengan aneka gaya mural.

Warna-warni gambar atau kata-kata uniknya sering dapat menutupi kesan suram dan kumal bangunan tertentu. Tidak hanya mengisi bidang kosong pada dinding bangunan, mural pun merambah hingga ke pintu bangunan yang rata-rata tinggi dan besar atau di tempat peralatan listrik bahkan tempat sampah.
 Memang tidak semua mural indah atau bermakna baik. Terkadang kita tidak mengerti maksud dan tujuan mural tersebut. Ejaan yang dipakai pun bisa mengacu pada jaman kemerdekaan. Beberapa gambar juga seperti ingin kembali ke jaman sebelum kemerdekaan. Ada pula yang berupa gambar salah satu bangunan tua di kompleks kota lama yaitu gereja Blenduk. Namun semuanya tampak tidak dibuat sembarangan dan tetap mempunyai seni.
Disamping itu, mirip seperti jalan Braga di Bandung, jalanan di sekitar Oudtstadt ini tidak menggunakan jalan aspal melainkan paving blok yang tertata rapi menyelimuti wilayah seluas 30 hektar tersebut.

Beberapa mural di bawah ini kalau diperhatikan betul memang saling berdekatan atau menyatu:





Peta Wisata Kota Lama
Di Eropa, kota-kota besarnya juga mempunyai kawasan kota lama atau kota tua. Jerman menyebutnya Altstadt, Perancis menyebutnya Vieux ... (nama kota), dan seterusnya. Kota tua yang indah dan terawat yang pernah saya kunjungi adalah di Nuremberg dan Duesseldorf di Jerman. Khususnya di Nuernberg atau Nuremberg, saya beruntung bisa menginap di rumah sahabat beberapa lama dan lebih dari satu kali sehingga bisa sering berkunjung ke Altstadt-nya yang berjarak hanya lima menit berjalan kaki dari apartemen. Waktu itu tahun 2003; kamera digital masih langka dan mahal harganya. Maka saya sangat tergantung pada kamera sahabat saya yang lumayan canggih dan hasilnya bagus namun tampak seperti di bawah ini kalau di-scan.

Di Altstadt Nuremberg, Jerman
Anyway, berwisata ke altstadt sudah menjadi agenda tetap saya selama berada di Jerman. Bukan hanya karena bangunan-bangunannya tetap tampak indah dan terawat, tetapi juga karena PETA dan petunjuknya jelas. Itu yang terpenting menurut saya, dimanapun si kota lama berada, termasuk di Semarang.
Bangunan yang tampak di foto itu adalah Sinwellturm (Sinwell tower) yang merupakan bagian dari Nuernberger Burg (Nuremberg Castle).
Hancur oleh Bom

Altstadt yang indah --bisa dilihat di www.nuernberg.de-- pernah rata dengan tanah pada jaman Perang Dunia ke-2. Sedikit kisahnya saya ceritakan di blog satu lagi, www.pilgrim.blogspot.com. Hampir semua bangunan disana yang mulai berdiri sejak tahun 1000 itu hancur kena bom, kecuali Sinwellturm dan dua bangunan lain di Nuremberg Castle. Usai perang dunia, seluruh Altstadt dibangun kembali perlahan sesuai dengan bangunan aslinya! Bayangkan betapa teliti bangsa Jerman menyimpan dokumentasi negaranya itu.

Saat saya mengunjungi kota lama ini, untuk mengamati seluruh isinya tidak cukup hanya bermodalkan semangat dan kekuatan fisik, tetapi juga peta. Entah berapa kilometer persegi luas kota lama ini karena tidak seperti Semarang, hampir seluruh bangunan di altstadt masih berfungsi sebagai museum, kantor pemerintah, gereja, bar, restoran, tempat seni, toko-toko suvenir ataupun supermarket bahkan youth hostel. Alstadt juga tidak hanya mempunyai jalan raya yang terbuat dari cobblestone, namun juga gang-gang kecil yang hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki seperti pada foto di atas. Tanpa berbekal peta, rasanya saya tak sanggup menjelajahi bangunan-bangunan yang cantik tersebut dengan ilmu mengira-ngira.
Peta Altstadt Nuremberg
www.tour-europe.org
Ada dua macam peta yang menarik yang pasti bisa menjadi bahan untuk  membuat peta wisata kota lama di Indonesia, tidak hanya Semarang. Yang pertama dari Nuernberg ini cukup lengkap dengan mencantumkan nama jalan (strasse, red.) juga gang (gasse, red.) plus gambar bangunan bersejarahnya. Jadi bagi mereka yang kesulitan membaca tulisan pun pasti dapat menemukan bangunan tersebut. Peta ini juga mencantumkan jelas letak stasiun KA bawah tanah (tanda U) dan nomor dengan warna berbeda yang menunjukkan tempat bersejarah atau toko atau lainnya. Peta ini tidak utuh karena keterangan nomor-nomor tersebut tercantum di bagian bawah atau samping peta. Selain bisa berkelana di dalam altstadt dengan gampang, peta ini juga memudahkan pelancong mencapai altstadt dari sisi manapun.
Peta Altstadt Frankfurt
http://www.relevantsearchscotland.co.uk
Kota lama Frankfurt tidak seluas Nuernberg punya, namun ia punya Romer yang  keindahan bangunannya terkenal. Mungkin karena itu di peta ia menempati urutan pertama. Walaupun tidak luas, menjelajahi altstadt akan sangat menjengkelkan kalau tidak berbekal peta. Pasalnya, bangunan modernnya sudah demikian dekat dengan bangunan-bangunan tuanya dan tercampur baur. Belum lagi harus menyeberang sungai untuk melihat nomor 8 dan 9 (Lihat peta). Oh ya, biasanya peta diperoleh di kantor turis di dekat kawasan altstadt atau di supermarket yang ada disana.
Andaikan kota lama Semarang memiliki peta serupa --kalau berlum ada-- maka wisata kesana mungkin akan lebih menarik dan menjadi bahan pembelajaran yang bagus untuk para pelajar. Apalagi kalau ditambah dengan catatan sejarah setiap bangunan di belakang peta itu. Atau malah bisa didownload ke gadget, wow! Lalu keliling kota lama dengan mengendarai becak berbekal peta pastilah menjadi petualangan menarik bagi siapapun yang mencintai Indonesia :)

DokumentasiPribadi