Selasa, 31 Maret 2015

Indonesiaku, Rumah Bagi Anak Bangsa


Indonesia kita ini tidak hanya kaya dalam jumlah, namun juga dalam ragam. Tanah dan samuderanya luas dan dihuni beragam suku bangsa. Amerika Serikat yang seluas *9.969.091 kilometer persegi didiami hanya suku Indian dan pendatang. Sementara itu Indonesia seluas 1.919.440 kilometer persegi menjadi hunian 1.340 suku bangsa. Hebat kan!

Perjalanan jurnalistik ke berbagai daerah membawa saya mengenal dan bergaul dengan penduduk asli di tempat tinggalnya. Kendati lebih sering sibuk dengan memotret dan berbincang-bincang dengan pemuka desa atau agama, saya selalu berusaha menyempatkan diri mengobrol atau hanya memotret teman-teman sebangsa dan setanah air saya ini. Anak-anak adalah obyek menarik karena tingkah laku mereka ada adanya serta raut mukanya sangat alami.

Singkawang, Papua dan Ternate yang Unik

Anak-anak ini masih duduk di bangku sekolah dasar di dusun Ampiri, desa Bacu Bacu, kecamatan Pujananting, kabupaten Barru, Makassar, Sulawesi Selatan. Letak dusun mereka sangat terpencil, sangat kering di musim kemarau dan belum dialiri listrik.
Namun itu semua tidak menghalangi gaya berpakaian mereka ya. Lihat saja celana jns dan kaos yang trendi. Usai menamatkan pendidikan di SD, mereka harus berjalan jauh untuk bersekolah ke SMP. Atau cukup melanjutkan ke madrasah tingkat SMP di dusunnya. Oh ya, kopi asli dusun mereka cukup nikmat lho :)

Di Singkawang saya sempat mengunjungi suku Dayak Salako di pemukimannya di Bagak Sahwa, kecamatan Singkawang Timur. Bagak Sahwa termasuk tujuan wisata di Singkawang, maka tak heran usai wawancara warganya segera menyuguhkan segala sesuatu yang khas dari suku mereka. Walau sibuk mewawancarai sumber dan memotret, saya sempatkan untuk berfoto dengan anak-anak Salako. Mereka tidak pemalu namun juga tidak langsung akrab dengan orang lain. Anak laki-laki pun sama; tidak iseng namun keingintahuannya cukup besar melihat peralatan yang saya bawa.



Pernah ada teman yang mengatakan bahwa paras wajah dan warna kulit suku Dayak lebih mirip ke orang Tionghoa. Nah, coba lihat tampang anak-anak ini. Apa benar seperti itu? Saya malah melihat keunikan masing-masing dari mereka. Seperti halnya anak-anak Indonesia jaman sekarang, mereka sulit ditebak asal suku bangsanya, sebab percampuran suku di Indonesia pun sering terjadi.



Saat mengejar sunset di Pantai Pasir Panjang, masih di Singkawang, saya mendapatkan pemandangan yang mengagumkan. Seorang pria mencari ikan dan kepiting di pinggir pantai dengan menggunakan jala kecil. Tak lama dua orang gadis kecil menghampiri pria tersebut. Saya menduga si pria adalah ayah mereka. Keduanya memakai gaun yang cukup bagus untuk bermain dan tanpa malu-malu membantu ayahnya bekerja dengan membawakan hasil tangkapan. Tidak jelas apakah ini mata pencaharian utama si ayah atau hanya mencari lauk untuk makan malam, namun tanpa banyak cakap kedua gadis cilik ini terus mengikuti ayah mereka yang berjalan menyusuri pantai sambil sesekali menyebar jala dan menariknya. Saya merenungkan kehidupan dan kerja keras sang ayah demi kehidupan keluarganya dan anak-anak yang mendukung kerja orangtuanya tanpa rasa malu.


Dedikasi pada pekerjaan yang sudah diwariskan turun temurun saya jumpai di Sakkok, Singkawang. Adalah kue choi pan, penganan khas Singkawang yang lezat dan terkenal hingga keluar Kalimantan. Di Sakkok ada sebuah keluarga yang sudah turun temurun membuat dan menjual kue choi pan. Saking laris dan terkenal enaknya, pembeli harus memesan sehari sebelumnya. Ibu yang di foto ini menjadi kepala usaha, dan dibantu hanya oleh anak perempuannya. Saya menyaksikan mereka berdua membuat choi pan mulai dari adonan hingga memasaknya di tungku tradisional. Irit bicara, gerakan tangan yang cekatan dan tekun. Itulah gaya kerja mereka.


Wanita, pada suku bangsa manapun di tanah air kita, kerap menjadi tulang punggung atau penggerak ekonomi keluarga. Demikian pula di kabupaten Sorong, Papua Barat. Perempuan penjual rebung di pasar tradisional ini, adalah seorang sarjana lho. Di rumahnya ia bercocok tanam. Setiap subuh ia berjualan rebung dan sayuran lain di pasar yang harus ia capai dengan menumpang kendaraan selama satu jam perjalanan dari rumahnya.
Saya kagum pada usaha dan ketekunannya mencari nafkah. Sayang, tidak ada yang memberinya modal untuk menambah jenis jualannya dan dapat menyewa lapak yang permanen agar tak perlu duduk berjongkok seperti itu.

Sementara itu pria ini mengecap nasib yang lebih beruntung. Dia menjadi PNS dan jabatan humas yang ia emban membuatnya bisa mengunjungi tempat-tempat lain selain Sorong. Peralatan fotografinya lebih bagus dari milik saya. Lagaknya seru banget ya saat memotret di pelabuhan pasar ikan Jempur, Sorong.



Seorang pemuda yang baru menjadi sarjana (saat itu), dan tinggal di pulau Bacan, membuat saya memikirkan apa yang sudah saya sumbangkan bagi negara ini. Nash, panggilan akrab dari kami, menggagas Rumah Baca Bibinoi (RUBI). Ini sebuah komunitas membaca bagi siswa-siswa usia sekolah hingga SMU di desa Bibinoi, Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Nash mengumpulkan buku-buku dan mengajak anak-anak di desanya cinta membaca. Di waktu senggang dia juga mengajar ilmu-ilmu termasuk tentang menggunakan komputer. Disini dia mengajar tentang ilmu pengetahuan alam langsung ke air terjun yang kami capai dengan berjalan kaki selama satu jam. Ia bukan guru, namun ia sudah menjadi kakak guru bagi anak-anak di kampung Bibinoi. Kini saya masih mencari pendonor untuk menggagas perpustakaan laut bersama Nash. Siapa yang berminat, bisa menghubungi saya ya :)
Ketika kami mengunjungi Bibinoi, kebetulan sekali guru-guru muda dari Indonesia Mengajar wilayah Maluku sedang berangjangsana juga kesana. Pengalaman mereka menyenangkan sekali kedengarannya. Para profesional muda atau baru beberapa tahun lulus dari universitas, berasal dari berbagai kota besar di Indonesia, mau membaktikan dirinya untuk anak-anak bangsa di pelosok Indonesia.
Kesempatan berfoto bersama anak-anak Bibinoi dan guru IM ini sangat langka

Desa Bori, masih terletak di Pulau Bacan, namun mencapainya harus menggunakan perahu bermotor sekitar setengah jam dari Bibinoi. Anak-anak di desa ini tidak seberuntung temannya di Bibinoi. Mereka tidak memiliki rumah baca, mungkin juga jarang membaca, sehingga tidak luwes berkomunikasi dengan tamu dari luar desa. Namun, seperti biasanya anak-anak, mereka kagum pada kamera yang saya bawa, dan bersedia saja diajak berfoto. Coba saat itu saya sudah punya tongsis, pasti lebih seru fotonya!  Desa yang berpenduduk tidak sampai seribu orang ini diberkati Tuhan dengan laut dan langit yang berwarna biru indah di saat cuaca bagus. Dermaga tempat perahu bermotor kami bersandar jauh lebih sederhana daripada dermaga di Bibinoi. Rumah-rumah sederhana beratap seng yang setengah miring tidak menghalangi keindahan foto-foto lansekap yang kami buat
.Lihatlah langit dan jajaran pohon kelapa di foto ini. Indah sekali! Di pulau Bacan ini setiap hari mata saya dipuaskan dengan pemandangan indah tersebut, persis seperti yang diceritakan di buku-buku pelajaran sekolah dasar saya. 

Kepala desa Bori sedang menunjukkan pada saya bekas banjir yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Beton penghalang pantai hancur diterjang ombak saat itu, dan air laut masuk beberapa meter ke dalam desa.


Bali Nan Artistik

Pernah dengar nama Desa Penglipuran di Bali? Kalau belum pernah, berarti tujuan wisata Anda di Bali masih mainstream alias umum. Hehehe.

Penglipuran adalah desa adat yang sudah berusia 100 tahun dan dipertahankan sebagai desa wisata yang terkenal dengan rumah-rumah adatnya yang tertata rapih. Saya beruntung sempat bertemua dan mengobrol dengan ketua adatnya, Wayan Supat.

Anak-anak perempuan di desa ini ada yang masih senang mengenakan selendang saat bermain sore hari. Mungkin juga karena mereka baru ikut orangtuanya ke pura. Seperti halnya anak-anak lain, mereka doyan makan es krim. Supaya mudah dan tidak membuang sampah dimana-mana, mereka melahap es krim di dekat tempat sampah yang unik dan terbagi menjadi organik dan anorganik. Mereka manis-manis ya :)

Liputan tentang bambu juga membuat saya bertambah beberapa kenalan baru petani bambu. Salah satunya, Wayan Jepang; asli Bali bukan Jepang. Selain bambu, ia juga mempunyai kebun jeruk dan tanaman lain. Ketekunannya selama puluhan tahun menjadi petani membuat ia bisa membangun rumah khas Bali yang sangat artistik, penuh ukitan di dinding dan pintu utamanya. Anak-anaknya sudah hampir menjadi sarjana, dan tetap membantu pekerjaan di kebunnya yang luas kalau sedang libur kuliah.

Penglipuran termasuk kabupaten Bangli, kabupaten terbesar penghasil bambu di pulau Bali. Jeruk Banglinya juga enak lho. Manis dan berair banyak. Ibu ini menjual berbagai kerajinan dari bambu, baik untuk wisatawan maupun penduduk lokal yang membutuhkan barang-barang untuk upacara adat. Wadah berwarna kuning dan hijau itu namanya Keben; biasa dipakai untuk membawa peralatan upacara.



Suku Dayak yang Tangguh


Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) di Kalimantan Barat luasnya 800.000 hektar! Terluas di Kalimantan Barat. Sungai besar dan kecil mengalir di dalam arealnya. Sungai Kapuas, yang terbesar dan terpanjang, mempunyai riam-riam yang terkenal. Riam Bakang termasuk riam yang menantang adrenalin petualang. Tidak panjang; ditempuh dalam waktu singkat di antara ombak air sungai nan bergelora dan dihiasi bebatuan besar. Dua tukang perahu kami ini kakak beradik yang tangguh sesuai namanya Daniel (pengendali mesin longboat) dan Simon (pengendali di lunas depan). Mereka adalah suku Dayak Punan Hovongan. Tak banyak omong, piawai mengendalikan perahu dan bertenaga kuat, itulah ciri keduanya. Kepiawaian Simon terbukti saat di suatu daerah sungai dimana arusnya deras namun tidak dalam. Pengendali perahu di longboat satu lagi turun dari perahu bersama beberapa penumpang agar tidak terpental, sementara Simon dengan halus namun kuat mengarahkan longboat menggunakan dayungnya tanpa perlu turun dari kapal dibantu Daniel yang memainkan irama mesin motor longboat dengan tak kalah lincahnya. Saya bertepuk tangan gembira :)

Di daerah Kapuas Hulu, terdapat desa Tanjung Lokang, desa asal Simon dan Daniel.  Mereka sudah tidak tinggal di rumah panjang khas Dayak.
Di foto ini seorang ibu muda ini sedang mengawasi anak laki-laki mungilnya yang sedang bermain di jembatan di tepi sungai. Si bocah tidak mengenakan celana dalam dan di tangan kanannya ada pisau tajam. Duh, horor banget deh. Saya meringis sendiri saat dia menolak tangan si ibu yang mau mengambil pisaunya. Hati-hati nak, jangan sampai terpotong modalmu sebagai lelaki, kata teman seperjalanan saya. Hahahah!

Sebelum Tanjung Lokang, ada desa Nangan Bungan yang juga dihuni Dayak Punan Hovongan. Suku ini masih bertattoo sesuai adatnya. Coba lihat baik-baik tangan dan kaki bapak berbaju biru ini.

Hanya ada satu bangunan sekolah di Nangan Bungan. Bangunannya pun paling bagus dan paling baru di seantero desa. Ada beberapa kelas dan tingkatan, namun gurunya hanya dua orang. Kepala sekolah merangkap guru pengajar juga. Ini mereka siap berbaris setelah jam istirahat pertama. Usai berbaris, semua anak memunguti sampah yang berada di halaman sekolah
sesuai komando pak Kepsek. Hmmm.... perlu dicontoh murid Jakarta nih.

Ketiga anak kecil dalam foto di bawah ini adalah keluarga suku Dayak Taman yang mendiami rumah betang Bali Gundi, dekat Putussibau. Wisatawan boleh menginap di rumah betang ini dengan tarif tidak mahal; Itu sebabnya anak-anaknya tidak tampak takut pada orang asing dan mudah difoto. Anak perempuan kecil itu seperti ada darah bule-nya ya. Padahal orangtuanya asli dayak lho.





Saya pikir semua orang Dayak sudah menjadi manusia modern dengan pakaian yang sama dengan penduduk di kota. Surprais sekali, dalam perjalanan melewati hutan di Tanjung Lokang, kami bertemu dengan seorang warganya yang hanya bercawat dari kulit kayu dan membawa panah serta sumpit. Bapak ini sedang berburu di hutan yang tidak lagi perawan. Tentu saja dia menjadi obyek foto yang menarik bagi kami; mana si bapak tidak malu-malu pula. Sementara kami yang wanita sudah memerah padam wajah melihat penampilannya yang setengah telanjang itu. Hadeeeeh!

Meskipun tidak lagi tinggal di rumah betang, rumah di Tanjung Lokang tetap tinggi dan mempunyai kolong rumah. Tangga rumahnya hanya setengah batang kayu yang permukaannya ditatah sederhana sehingga menjadi anak tangga.
Kemiringan tangga kayu ini juga cukup ekstrim; namun ibu pemilik rumah di foto ini santai saja turun naik tangga sementara saya harus memanjat pelahan seperti kukang karena tanpa alas kaki terasa kayunya agak licin di kulit.
Berbeda dengan sungai Kapuas yang berair coklat (kecuali di Kapuas Hulu) dan kiri-kanan sungai sudah gersang, di sungai Embaloh saya mendapati pemandangan hutan rimba yang indah. Airnya pun masih jernih. Sepanjang penyusuran sungai rombongan kami tidak pernah berjumpa dengan manusia lain. 

Tiba-tiba perahu yang saya tumpangi menepi dan tukang perahu melempar tali ke hamparan bebatuan yang menjadi daratan kecil. Polisi hutan yang menemani kami segera melompat turun dari perahu sambil membawa keranjang anyam. "Saya belanja sayur dulu ya," katanya ceria. Saya terbengong-bengong tidak mengerti. Mana pasarnya? (pikir saya). Karena penasaran dan kepo, saya ikut turun dan menyusul agak masuk ke dalam hutan. Ternyata mereka memetiki daun pakis yang hijau dan segar . Ealaaaah... hutan rimba ini rupanya pasar tempat mereka berbelanja! Saya tertawa senaaaang!
Sesampai di Camp Tekelan, kedua tukang perahu kami dari suku Dayak Iban langsung mengolah sayur pakis itu menjadi masakan yang lezat. Walaupun di tengah hutan, makanan kami berkualitas, karena mereka niat banget bawa kompor gas untuk keperluan memasak. Lauknya apa? Ikan semah hasil pukat Salamat dan Umpor, tukang perahu kami. Di kota, harga ikan semah ini Rp 800.000 per kg kata teman saya. Ha! Disini kami makan satu ekor besar ikan semah dimasak sop dengan setengah berebut! Bumbunya hanya garam dan merica, tapi enaknya bukan main! Gurih, segar dan tidak bau amis. Fotonya mana? Baca saja artikel tentang ekowisata di TN Betung Kerihun di blog saya ini juga :)  Dan inilah wajah kedua sahabat Dayak Iban saya; yang selalu menemani saya di dua kunjungan saya ke sungai Embaloh dan Tekelan, surga tersembunyi di jantung Kalimantan Barat.

Umpor, sudah menikah dan mempunyai anak, tinggal di rumah betang Desa Sadap. Sebuah desa wisata yang juga menerima tamu menginap di rumah betangnya. Umpor dan Salamat pernah mengikuti kursus bahasa Inggris yang diadakan bagi para guide ekowisata di TN Betung Kerihun. Sejak kami berpisah di kunjungan saya yang terakhir, Umpor paling rajin mengirim pesan singkat ke telepon selular saya mulai dari sebaris kalimat pendek "Apa kabar mba?", hingga curhatnya tentang impiannya untuk bisa belajar lagi bahasa Inggris karena kursus dirasa tidak cukup.

Kedua lelaki ini mengandalkan nafkahnya dari profesi guide tersebut. Sebelum kursus, baik Umpor maupun Salamat sudah sering membawa rombongan peneliti dari luar negeri seperti Jerman, Singapura dan Jepang. Bahasa Inggris yang mudah dan untuk percakapan sehari-hari sudah dikuasai walau dengan logat sukunya yang kental. Kabar terakhir yang dikirim Umpor adalah kematian panglima adat desanya pada awal Maret 2015.  Salamat, yang lebih melankoli ini mempunyai mata yang tajam. Berkat dia, saya bisa melihat berbagai binatang saat longboat melaju pelahan di sungai. Rusa hutan, burung, kupu-kupu, serta anggrek dan pohon-pohon yang indah. Pengetahuan keduanya akan kekayaan taman nasional ini lebih sering dinikmati oleh wisatawan asing, karena belum ada wisatawan Indonesia yang mau berpetualang kesana; kecuali komunitas pemancing atau orang-orang dinas kehutanan. Saya merasa sangat beruntung bisa mengunjungi tempat indah ini dan memperoleh teman-teman baru.
Foto: Koleksi Pribadi





Rabu, 18 Maret 2015

Bambu; Kayu Untuk Semua

Jalan raya di desa Penglipuran
Jalan beraspal tak seberapa lebar itu sarat tanaman bambu di sisi kiri dan kanannya. Begitu rindangnya hingga kendati baru pukul 4 sore jalan itu sudah agak gelap; ditambah suara desir daun-daun bambu yang tertiup angin maka lengkaplah suasana mistis di sekitar desa Penglipuran, kabupaten Bangli, Bali tersebut. Desa adat ini termasuk desa yang masih mempertahankan hutan bambunya sejak mulai berdiri yaitu sektar abad ke-13.

Ketua Adat Desa Penglipuran, Wayan Supat, mengatakan dari 112 ha luas wilayah desa, sebanyak 45 ha adalah hutan bambu. Hutan ini mengelilingi bagian utara, timur laut dan selatan desa. "Bambu mempunyai nilai ekologis bagi masyarakat ada disini," tutur Wayan, "Misalnya untuk membangun rumah, terutama atap sirap."

Rumah warga Penglipuran dari bambu
Bambu adalah bagian sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat Bali yang beragama Hindu, demikian ungkap Wayan Jepang, petani bambu dari desa Landih, kabupaten Bangli, Bali. "Mulai dari proses kelahiran (memotong tali pusar dengan bambu), pernikahan sampai pada acara kematian atau ngaben, orang Bali tak lepas dari bambu," jelasnya.

Dalam upacara keagamaan, semua bagian bambu baik daun maupun batang sangat berguna sebagai wadah sesaji dan kelepngkapan upacara. Bambu juga bagian dari bangunan adat Bali mulai dari atap, dinding dan peralatan rumah tangga di dalamnya.
Bangunan Green School Ubud
Hal ini pun berlaku di berbagai daerah di Indonesia selain Bali, serta negara-negara lain. Berkunjunglah ke kampung Kanekes (Banten Kidul), kampung Naga (Tasikmalaya), kampung Pulo dan kampung Dukuh (Garut), Tana Toraja (Sulawesi), Wae Rebo (Flores) dimana arsitektur tradisionalnya yang ramah terhadap iklim dan tahan gempa; terbuat dari bambu.

Indonesia, Ketiga Terbanyak
Tumbuhan yang termasuk suku rumput-rumputan (Poaceae) berkayu dan hidup merumpun ini termasuk tanaman paling cepat tumbuh, sekitar 100 cm per 24 jam, tergantung kondisi tanah, iklim dan jenis bambunya. Bambu mudah tumbuh dimana saja: di ketinggian 0 hingga 4000 meter di atas permukaan laut: tersebar di daerah tropis, sub tropis, daerah beriklim lembab dan panas. Bambu dapat tumbuh di tepi pantai, tepi sungai, lembah, lereng bukit dan hutan.
Peserta Seminar Bambu di Bali
Dari sekitar 1.500 jenis bambu di dunia, lebih dari 160 jenis tumbuh di Indonesia (11%). Setelah India (30%) dan China (14%), Indonesia menempati peringkat ke-3 terbanyak (5%) dari 37 juta ha sebaran bambu dunia. Kecuali Kalimantan, seluruh pulau di Indonesia mempunyai sumber bambu yang melimpah. Untuk kabupaten Bangli produksinya sekitar 2,3 juta buluh bambu per tahun. 

Secara nasional angka ekspor bambu sekitar US$ 5,8 juta; terbesar ke Amerika Serikat. Sayangnya saat ini pengelolaan bambu sebagai komoditas masih dipandang sebelah mata. Hal tersebut diungkapkan Desy Ekawati, Koordinator Kerjasama Proyek :Revitalisai Industri Bambu Masyarakat" dengan dukungan International Tropical Timber Organization (ITTO), pada September lalu.

Kerajinan Warga Penglipuran
"Paradigma yang ada adalah bambu identik dengan kemiskinan," ujar Desy. Padahal kebutuhan kayu semakin tinggi sementara ketersediaannya kian langka akibat kebijakan pembatasan penebangan hutan. "Bambu sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi pengganti kayu (wood substitute), dan selanjutnya menjadi pengganti kayu yang berkelanjutan (green wood)," paparnya. Apalagi bambu termasuk renewable resources yang sekali tanam (investasi), selanjutnya tinggal memanen.

Kendati belum banyak pihak yang memanfaatkan bambu secara serius, namun di kabupaten Bangli yang menjadi lokasi proyek masyarakatnya sudah dapat dapat menjual bambu sebagai komoditas yang menjanjikan. Contohnya Desa Penglipuran dengan hutan bambu dan kerajinan tangan dari bambu adalah obyek wisata terkenal ke mancanegara. Kabupaten Bangli juga terkenal dengan kerajinan bambu untuk pasar lokal dan ekspor.

Surya Bambu Bali milik entrepreneur muda bernama I Nengah Suwirya, bisa jadi merupakan satu-satunya perusahaan pengolahan bambu di Bali yang menggunakan teknologi laminasi (laminated bamboo) yaitu pengasapan bambu untuk pengawetannya. Teknik ini membuat bambu lebih tahan lama; bisa hingga 30 tahun. Nengah menjual produknya dalam bentuk balok, papan, parket (flooring), dinding, atap, maupun furnitur. Produknya sudah memiliki pasar ekspor di Jepang dan Eropa.

"Orang Barat lebih suka laminated bamboo karena tidak menggunakan zat kimia berbahaya dan harganya lebih murah dari produk Jepang," tutur Nengah. Harga jual produknya Rp 650.000 per meter persegi. "Untuk pembeli internasional Rp 750.000," lanjutnya. Produk lain, gazebo, berharga Rp 100 juta per buah dengan ukuran 3 x 3 meter.
Pengasapan Bambu


Selama ini Nengah bisa memperoleh bahan bakunya dari Kintamani dan Bangli. Apabila pesanan membanjir dan ia kekurangan bahan baku, maka alternatif lain yang masih potensial adalah pulau Sumatera dan Jawa. Green School. sebuah sekolah internasional di Ubud, Bali dengan bangunan-bangunan unik dan berbagai furniturnya yang terbuat dari bambu juga mendatangkan jenis bambu-bambu raksasa dari Jawa Timur.

Begitu luasnya pemanfaatan dan penggunaan bambu namun Indonesia tetap masih tertinggal jauh dari Cina. Areal lahan bambu yang dimiliki penduduk jauh lebih luas daripada milik pemerintah, tetapi Indonesia masih mengimpor tusuk gigi, tusuk sate, sumpit dan dupa dari Cina. Padahal, kata Desy, potensi jenis bambu di Indonesia lebih baik dari Cina. "Cina tidak punya jenis bambu Petung (Dendrocalamus asper) misalnya," tandas Desy. Petung adalah jenis bambu besar dan banyak tersebar di Indonesia; umumnya digunakan untuk bahan konstruksi rumah dan furnitur, sedangkan rebungnya enak untuk dimakan.

Dr Anto Rimbawanto
Namun dengan bertambahnya kebutuhan dan peluang pasar, maka perlu ada teknologi lain untuk membiakkan bambu. Salah satunya adalah teknik kultur jaringan. Dr Anto Rimbawanto, ahli kultur jaringan bambu dan pendiri PT Bambu Nusa Verde menjelaskan kalau teknologi ini mempersingkat waktu bambu memiliki akar dan bertumbuh.
"Jika dengan cara stek maka bonggol bambu jadi setelah 1 tahun dan baru tumbuh akar minimal setelah 1,5 tahun," urai Anto. "Sedangkan bibit kultur jaringan hanya perlu waktu 8 bulan untuk dipindahkan ke tanah dan sudah berakar kuat."

Tentu saja ini membutuhkan investasi yang tidak murah di awalnya, karena semua peralatan dan pekerjanya harus dalam keadaan streil dan membutuhkan bangunan permanen. Berbeda dengan penanaman tradisional yang di lahan terbuka dan tanpa peralatan khusus. Namun ini dapat menjadi peluang besar bagi industri bambu yang lebih stabil dan bernilai ekonomis. Dengan demikian tidak mustahil paradigma "bambu untuk si miskin" dapat berubah menjadi "bambu untuk si kaya" karena mendatangkan income yang cukup aduhai jumlah rupiahnya. 

Kesenjangan dan Dukungan Pemerintah
Di Indonesia pengelolaan bambu belum dikerjakan secara sinergis. Masih ada kesenjangan antara sektor hulu yaitu petani dan penanaman bambu, dengan sektor hilir yaitu pemanfaatan dan industri. "Proyek revitalisasi ini akan melihat dan membangun pengelolaan bambu dari sektor hulu sampai hilir," papar Anto. Bangli dipilih karena penghasil bambu terbesar di Bali dan ada pula industri pengolahannya. 

Wayan Jepang dan Pohon Bambu Siap Jual
Dukungan kebijakan pemerintah pun belum pro bambu. Sementara itu, sejak 20 tahun terakhir Cina melakukan penanaman bambu seluas 50-100 ribu ha per tahun yang menyediakan lapangan kerja untuk 35 juta penduduk. Nilai produk bambunya sudah mencapai lebih dari US$ 10 miliar atau Rp 100 triliun. Cina juga memiliki "Yunnan's 2166 Project" yaitu 2 juta MU (=134.000) ha tanaman untuk industri, 1 juta MU (=67.000 ha) untuk konservasi, 6 pusat pembibitan dan 6 demplot untuk industri bambu sesuai kemampuan dan permintaaan pasar.

Namun pemerintah Indoensia sudah turun tangan dengan melakukan semacam gerakan nasional untuk merevitalisasi bambu di Indonesia. Kedubes Indonesia di Belgia memulai dengan melaksanakan World Bamboo Congress pada tahun 2012. "Dubesnya, Arif Havas Oegroseno sendiri yang langsung menjadi penggeraknya," kata Desy.

Bambu Hitam
Kementrian Kehutanan mempunyai program penanaman bambu seluas 10 hektar di setiap Kabupaten se-Jawa dan Bali yang programnya dimulai tahun 2014. Kementrian Lingkungan Hidup menggalakkan penanaman bambu melalui kelompok-kelompok penggiat bambu, sedangkan Kementrian Perindustrian menggalakkan industri-industri bambu dan potensi besarnya bagi peluang usaha industri. Maka niscaya bambu sebagai alternatif bijak pengganti kayu bukanlah hal yang mustahil kelak.

Foto: Koleksi Pribadi





































Jumat, 27 Februari 2015

Surga Tersembunyi di Taman Nasional Betung Kerihun

Sungai Kapuas dari udara
Bayangkanlah Anda sedang berperahu di sebuah sungai berair jernih yang kedua tepinya padat oleh hutan hujan tropis sambil mendengarkan kicau burung bersahutan dan lengkingan kelampiau (sejenis monyet), lalu seekor kupu-kupu RajaBrook terbang di dekat wajah Anda. Ini hanya bisa dialami di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) di kabupaten Kapuas Hulu; tepatnya di jantung Kalimantan Barat.

Raja Brook
TNBK yang seluas 800.000 hektar ini dahulu namanya Cagar Alam Bentuang Karimun. Penamaan Betung Kerihun diambil dari dua gunung yaitu Gunung Betung (1.150 m) di sebelah barat dan Gunung Kerihun (1.790 m) di sebelah timurnya. Sebagian besar topografi TNBK berupa perbukitan, dari bentangan Pegunungan Muller yang menghubungkan kedua gunung tersebut sekaligus sebagai pembatas antara wilayah Indonesia dengan Serawak, Malaysia.

Mendarat di Putussibau
Pintu masuk TNBK adalah Putussibau, ibukota kabupaten Kapuas Hulu, yang terletak 600 km timur laut kota Pontianak. Pilihan maskapai penerbangan tujuan Pontianak antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, Batavia dan Sriwijaya. Dari bandara Supadio pengunjung bisa melanjutkan perjalanan dengan satu-satunya maskapai yang terbang ke Putussibau sekali setiap hari, yaitu Kalstar. Satu jam saja sudah mendarat di bandara Pangsuma, Putussibau. Pilihan lainnya, jalan darat dengan bis atau mobil yang membutuhkan waktu 12-16 jam.

Longboat
Menurut Kepala Balai Besar TNBK, Ir Djohan Utama Perbatasari MM, tampaknya ecotourism perlu lebih ditingkatkan untuk empat kawasan menarik yaitu DAS (Daerah Aliran Sungai) Embaloh, DAS Mendalam, DAS Sibau dan DAS Kapuas ini. Kegiatan susur sungai yang dipadu dengan pengamatan flora-fauna, trekking ringan ke air terjun, memancing atau body rafting cukup menantang bagi wisatawan dalam dan luar negeri.

Salah satu wisatanya adalah melayari sungai Kapuas dari Putussibau menuju Nanga Bungan dan Tanjung Lokang, desa yang dihuni suku Dayak Punan Hovongan. Perjalanan menggunakan longboat tersebut melintasi beberapa rintangan seperti jeram dan kedangkalan sungai, plus pemandangan ladang tradisional, hutan meranti, penambangan emas dan kampung-kampung Dayak maupun Melayu. Setidaknya lebih dari 10 jeram yang menghadang perjalanan menuju Nangan (muara) Bungan.

Bungan Jaya
Desa Bungan Jaya terletak dipersimpangan sungai Kapuas dan anaknya yaitu sungai Bungan. Berbeda dengan kondisi sungai di hilir yang berwarna coklat keruh, di sungai Bungan air agak bening dan daerah pinggir sungainya dipadati pepohonan. “Ini sudah termasuk kawasan TNBK dan masuk daerah hulu sungai Kapuas,” kata Johardy, polisi hutan wilayah Bungan-Lokang. 

Sejauh mata memandang terlihat rainforest yang rapat dan masih perawan. Di pagi hari terlihat bukit-bukit hijau di kejauhan berselimut kabut. Beberapa rumah penduduk menjual kerajinan manik-manik seperti tas tangan, dompet, topi, rompi, juga mandau (senjata khas suku Dayak).

Desa Tanjung Lokang
Tanjung Lokang berada lebih ke dalam kawasan TNBK; untuk mencapainya butuh waktu 3-4 jam naik longboat dari Nanga Bungan. Ini sudah termasuk berjalan kaki di hutan pinggir sungai dan jembatan kayu sementara longboat menembus riam Bakang yang adegannya menegangkan kendati tidak sampai 10 menit. Sisi sungai yang satu dipenuhi batu-batu besar, sementara sisi lain adalah tebing cadas yang mampu membuat perahu hancur apabila terhantam ombak ke arahnya. Ini saat debit air turun karena tidak hujan.

Kalau debit air tinggi maka kondisi lebih berbahaya karena batu seukuran mobil truk atau rumah tersebut tidak terlihat. “Bila sangat berbahaya, kami angkut perahu melalui jembatan kayu,” ujar Simon, pengemudi longboat. Masih ada lagi riam Homatop yang juga berbahaya namun dapat dinikmati dari dalam perahu, sebelum akhirnya merapat di Tanjung Lokang. Apabila riam Bakang belum memacu adrenalin pehobi rafting, masih ada riam Lapan yang bertingkat delapan dan riam Matahari yang super dahsyat. Grade kedua riam itu antara 5 sampai 6.
Riam Bakang
Penduduk asli di desa Tanjung Lokang tidak tinggal di rumah panjang khas Dayak (betang) sama seperti di Bungan. Tas, topi, tikar atau wadah anyaman disini rapih dan kuat. Penduduk desa kerap menyajikan tari-tarian dan musik tradisional untuk wisatawan, terutama saat pesta panen atau Gawai di bulan April atau Mei.

Empat jam berjalan kaki dari desa akan banyak ditemukan gua dan sarang burung walet. Beberapa Liang(lubang gua) bersejarah dan merupakan makam leluhur masyarakat Dayak yang disebut ‘tembawang’, misalnya Liang Kahung. Di dalam gua tersebut masih dapat dilihat tulang belulang dan tengkorak manusia. Tempat tersebut ideal bagi pencinta caving dan rock climbing.

Rumah Betang Desa Sadap
Kalau di timur ada DAS Kapuas, di barat Putussibau terdapat DAS Embaloh yang sepi dari jamahan manusia. Penyusuran sungai dimulai di Desa Sadap; sebuah desa wisata sejak diresmikan tahun 2011. Salah satu rumah betang ada di desa suku Dayak Iban ini. Rumah panjang dari tiang kayu, berdinding bambu dan beratap sirap tersebut sudah direnovasi dan memiliki 27 bilik pintu yang dihuni sekitar 47 KK. Siang hari kaum perempuan menenun kain dan menganyam perkakas di selasar rumah betang.

Sungai Embaloh yang berair hijau mengalir di depan desa yang menjadi pintu masuk TNBK tersebut. Panjang sungai ini 168 km dengan kedalaman 1-2 meter. Salah satu destinasi menariknya adalah Tekelan, yang bisa dicapai dengan longboat berkekuatan 15 PK selama 3 jam. Para pencinta alam liar pasti terpesona kala perahu masuk ke jantung kawasan yang kaya  akan pepohonan hutan hujan tropis serta aneka flora-fauna ini. Kalau beruntung bisa melihat orangutan, rusa, biawak dan burung-burung seperti pecuk ular, raja udang dan enggang gading. Kegiatan bird watching sangat ideal disini.

Ikan Semah
Pepohonan ensurai –-paling kuat menahan arus sungai— tumbuh subur di pinggiran sungai, sementara di bagian dalam hutan pepohonan meranti (Shorea sp) tumbuh subur. Air sungai begitu jernih dan bersih sampai bisa melihat dasar sungai dan ikan-ikan yang berenang-renang. Menurut Irawan, Kepala Resort Sebabai, ada 103 jenis ikan yang hidup di sungai Embaloh dan anak-anak sungainya. Salah satu ikan konsumsi yang terkenal adalah ikan semah; harganya sekitar Rp800 ribu per kg. Daging ikan semah terasa manis dan gurih walau dimasak tanpa bumbu. “Inilah surga bagi pemancing,” ujar Irawan.

Areal Camping
Camp Nanga Tekelan atau camp Langsat terletak di sungai Tekelan, cabang sungai Embaloh. Kedua tempat ini sudah memiliki areal untuk berkemah, lengkap dengan toilet dan kamar mandi. Air tawar yang bersih dan segar mengalir melalui selang. “Air ini sama kualitasnya dengan air minum menurut peneliti Jerman yang pernah kesini,” kata Irawan. Hutan perawan di belakang lokasi berkemah masih rapat namun bisa menjadi jalur trekking ringan. Kalau ada rumah pohon kegiatan pengamatan pasti lebih menarik. Pantai berbatu di pinggir sungai cukup lebar untuk bersantai sambil menikmati api unggun di malam hari. Jika ingin berenang cukup di sekitar pantainya karena arus air sungai agak deras.

Sungai Tekelan yang jernih dan layak minum
Lebih ke hulu lagi terdapat Camp Derian yang menjadi titik start pendakian ke Gunung Betung. Waktu tempuh hingga ke puncaknya setengah hari. Sedangkan ke Gunung Condong butuh waktu 3 hari mendaki dan turun hanya satu hari.  Sarang orangutan banyak ditemukan di jalur-jalur trekking disini. Dari camp Derian pula ada sebuah jalur trail menuju Gua Pajau yang menjadi lokasi berkumpulnya berbagai jenis satwa terutama Enggang Badak.

Tak jauh dari Derian terdapat riam Naris yang sukar dilalui perahu. Pada musim kemarau, di antara riam Naris dan sungai Pajau, dibalik kejernihan air, wisawatan dapat melihat komunitas ikan semah berenang di tengah sungai yang menyerupai kolam. Dari riam Naris wisatawan juga dapat melakukan board rafting atau body rafting menuju camp Derian. Tentu saja sudah dengan pengaman di beberapa titik sungai.

Air Terjun Dajo
Ada banyak air terjun di sekitar hulu Embaloh; antara lain Dajo dan Laboh. Wisatawan bisa berjalan menyusuri anak sungai yang tidak dalam sepanjang 150- 350 meter untuk mencapai lokasi kedua air terjun tersebut.

Bagi wisatawan ecotourism, rumah betang sangat menarik. Sebuah rumah betang asli yang tertua (usianya 100 tahun) milik masyarakat Dayak Tamambaloh ada di desa Sungai Uluk Palin, Kecamatan Putussibau Utara. Lokasinya sudah termasuk DAS Sibau dan berjarak 45 menit berkendara dari Putussibau. Panjang bangunan 240 meter, lebar 18 meter dan tinggi 8 meter. 
Betang Baligundi

Walaupun tingginya sudah turun tiga kali dari semula yang 12 meter, inilah rumah betang tertinggi dan terpanjang di Kalimantan Barat. Fondasinya terbuat dari kayu belian atau kayu besi; kayu terkuat di jenis pepohonan. Sekitar 137 KK menempati 53 bilik di rumah tersebut. Disini wisatawan bisa membeli kerajinan anyaman dan aksesoris dari manik-manik buatan penghuni rumah.


Kalau ingin merasakan tinggal bersama kaum Dayak Taman, datanglah ke rumah betang Baligundi di desa Sibau Hulu. Total panjang betang 150 meter dengan 23 bilik yang beberapa diantaranya bisa disewa oleh wisatawan. Rumahnya tidak setinggi Sungulok Apalin namun atraksi wisata dan layanan ramah pemilik bilik pasti tak kan terlupakan. ***

Foto: Koleksi Pribadi