Rabu, 18 Maret 2015

Bambu; Kayu Untuk Semua

Jalan raya di desa Penglipuran
Jalan beraspal tak seberapa lebar itu sarat tanaman bambu di sisi kiri dan kanannya. Begitu rindangnya hingga kendati baru pukul 4 sore jalan itu sudah agak gelap; ditambah suara desir daun-daun bambu yang tertiup angin maka lengkaplah suasana mistis di sekitar desa Penglipuran, kabupaten Bangli, Bali tersebut. Desa adat ini termasuk desa yang masih mempertahankan hutan bambunya sejak mulai berdiri yaitu sektar abad ke-13.

Ketua Adat Desa Penglipuran, Wayan Supat, mengatakan dari 112 ha luas wilayah desa, sebanyak 45 ha adalah hutan bambu. Hutan ini mengelilingi bagian utara, timur laut dan selatan desa. "Bambu mempunyai nilai ekologis bagi masyarakat ada disini," tutur Wayan, "Misalnya untuk membangun rumah, terutama atap sirap."

Rumah warga Penglipuran dari bambu
Bambu adalah bagian sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat Bali yang beragama Hindu, demikian ungkap Wayan Jepang, petani bambu dari desa Landih, kabupaten Bangli, Bali. "Mulai dari proses kelahiran (memotong tali pusar dengan bambu), pernikahan sampai pada acara kematian atau ngaben, orang Bali tak lepas dari bambu," jelasnya.

Dalam upacara keagamaan, semua bagian bambu baik daun maupun batang sangat berguna sebagai wadah sesaji dan kelepngkapan upacara. Bambu juga bagian dari bangunan adat Bali mulai dari atap, dinding dan peralatan rumah tangga di dalamnya.
Bangunan Green School Ubud
Hal ini pun berlaku di berbagai daerah di Indonesia selain Bali, serta negara-negara lain. Berkunjunglah ke kampung Kanekes (Banten Kidul), kampung Naga (Tasikmalaya), kampung Pulo dan kampung Dukuh (Garut), Tana Toraja (Sulawesi), Wae Rebo (Flores) dimana arsitektur tradisionalnya yang ramah terhadap iklim dan tahan gempa; terbuat dari bambu.

Indonesia, Ketiga Terbanyak
Tumbuhan yang termasuk suku rumput-rumputan (Poaceae) berkayu dan hidup merumpun ini termasuk tanaman paling cepat tumbuh, sekitar 100 cm per 24 jam, tergantung kondisi tanah, iklim dan jenis bambunya. Bambu mudah tumbuh dimana saja: di ketinggian 0 hingga 4000 meter di atas permukaan laut: tersebar di daerah tropis, sub tropis, daerah beriklim lembab dan panas. Bambu dapat tumbuh di tepi pantai, tepi sungai, lembah, lereng bukit dan hutan.
Peserta Seminar Bambu di Bali
Dari sekitar 1.500 jenis bambu di dunia, lebih dari 160 jenis tumbuh di Indonesia (11%). Setelah India (30%) dan China (14%), Indonesia menempati peringkat ke-3 terbanyak (5%) dari 37 juta ha sebaran bambu dunia. Kecuali Kalimantan, seluruh pulau di Indonesia mempunyai sumber bambu yang melimpah. Untuk kabupaten Bangli produksinya sekitar 2,3 juta buluh bambu per tahun. 

Secara nasional angka ekspor bambu sekitar US$ 5,8 juta; terbesar ke Amerika Serikat. Sayangnya saat ini pengelolaan bambu sebagai komoditas masih dipandang sebelah mata. Hal tersebut diungkapkan Desy Ekawati, Koordinator Kerjasama Proyek :Revitalisai Industri Bambu Masyarakat" dengan dukungan International Tropical Timber Organization (ITTO), pada September lalu.

Kerajinan Warga Penglipuran
"Paradigma yang ada adalah bambu identik dengan kemiskinan," ujar Desy. Padahal kebutuhan kayu semakin tinggi sementara ketersediaannya kian langka akibat kebijakan pembatasan penebangan hutan. "Bambu sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi pengganti kayu (wood substitute), dan selanjutnya menjadi pengganti kayu yang berkelanjutan (green wood)," paparnya. Apalagi bambu termasuk renewable resources yang sekali tanam (investasi), selanjutnya tinggal memanen.

Kendati belum banyak pihak yang memanfaatkan bambu secara serius, namun di kabupaten Bangli yang menjadi lokasi proyek masyarakatnya sudah dapat dapat menjual bambu sebagai komoditas yang menjanjikan. Contohnya Desa Penglipuran dengan hutan bambu dan kerajinan tangan dari bambu adalah obyek wisata terkenal ke mancanegara. Kabupaten Bangli juga terkenal dengan kerajinan bambu untuk pasar lokal dan ekspor.

Surya Bambu Bali milik entrepreneur muda bernama I Nengah Suwirya, bisa jadi merupakan satu-satunya perusahaan pengolahan bambu di Bali yang menggunakan teknologi laminasi (laminated bamboo) yaitu pengasapan bambu untuk pengawetannya. Teknik ini membuat bambu lebih tahan lama; bisa hingga 30 tahun. Nengah menjual produknya dalam bentuk balok, papan, parket (flooring), dinding, atap, maupun furnitur. Produknya sudah memiliki pasar ekspor di Jepang dan Eropa.

"Orang Barat lebih suka laminated bamboo karena tidak menggunakan zat kimia berbahaya dan harganya lebih murah dari produk Jepang," tutur Nengah. Harga jual produknya Rp 650.000 per meter persegi. "Untuk pembeli internasional Rp 750.000," lanjutnya. Produk lain, gazebo, berharga Rp 100 juta per buah dengan ukuran 3 x 3 meter.
Pengasapan Bambu


Selama ini Nengah bisa memperoleh bahan bakunya dari Kintamani dan Bangli. Apabila pesanan membanjir dan ia kekurangan bahan baku, maka alternatif lain yang masih potensial adalah pulau Sumatera dan Jawa. Green School. sebuah sekolah internasional di Ubud, Bali dengan bangunan-bangunan unik dan berbagai furniturnya yang terbuat dari bambu juga mendatangkan jenis bambu-bambu raksasa dari Jawa Timur.

Begitu luasnya pemanfaatan dan penggunaan bambu namun Indonesia tetap masih tertinggal jauh dari Cina. Areal lahan bambu yang dimiliki penduduk jauh lebih luas daripada milik pemerintah, tetapi Indonesia masih mengimpor tusuk gigi, tusuk sate, sumpit dan dupa dari Cina. Padahal, kata Desy, potensi jenis bambu di Indonesia lebih baik dari Cina. "Cina tidak punya jenis bambu Petung (Dendrocalamus asper) misalnya," tandas Desy. Petung adalah jenis bambu besar dan banyak tersebar di Indonesia; umumnya digunakan untuk bahan konstruksi rumah dan furnitur, sedangkan rebungnya enak untuk dimakan.

Dr Anto Rimbawanto
Namun dengan bertambahnya kebutuhan dan peluang pasar, maka perlu ada teknologi lain untuk membiakkan bambu. Salah satunya adalah teknik kultur jaringan. Dr Anto Rimbawanto, ahli kultur jaringan bambu dan pendiri PT Bambu Nusa Verde menjelaskan kalau teknologi ini mempersingkat waktu bambu memiliki akar dan bertumbuh.
"Jika dengan cara stek maka bonggol bambu jadi setelah 1 tahun dan baru tumbuh akar minimal setelah 1,5 tahun," urai Anto. "Sedangkan bibit kultur jaringan hanya perlu waktu 8 bulan untuk dipindahkan ke tanah dan sudah berakar kuat."

Tentu saja ini membutuhkan investasi yang tidak murah di awalnya, karena semua peralatan dan pekerjanya harus dalam keadaan streil dan membutuhkan bangunan permanen. Berbeda dengan penanaman tradisional yang di lahan terbuka dan tanpa peralatan khusus. Namun ini dapat menjadi peluang besar bagi industri bambu yang lebih stabil dan bernilai ekonomis. Dengan demikian tidak mustahil paradigma "bambu untuk si miskin" dapat berubah menjadi "bambu untuk si kaya" karena mendatangkan income yang cukup aduhai jumlah rupiahnya. 

Kesenjangan dan Dukungan Pemerintah
Di Indonesia pengelolaan bambu belum dikerjakan secara sinergis. Masih ada kesenjangan antara sektor hulu yaitu petani dan penanaman bambu, dengan sektor hilir yaitu pemanfaatan dan industri. "Proyek revitalisasi ini akan melihat dan membangun pengelolaan bambu dari sektor hulu sampai hilir," papar Anto. Bangli dipilih karena penghasil bambu terbesar di Bali dan ada pula industri pengolahannya. 

Wayan Jepang dan Pohon Bambu Siap Jual
Dukungan kebijakan pemerintah pun belum pro bambu. Sementara itu, sejak 20 tahun terakhir Cina melakukan penanaman bambu seluas 50-100 ribu ha per tahun yang menyediakan lapangan kerja untuk 35 juta penduduk. Nilai produk bambunya sudah mencapai lebih dari US$ 10 miliar atau Rp 100 triliun. Cina juga memiliki "Yunnan's 2166 Project" yaitu 2 juta MU (=134.000) ha tanaman untuk industri, 1 juta MU (=67.000 ha) untuk konservasi, 6 pusat pembibitan dan 6 demplot untuk industri bambu sesuai kemampuan dan permintaaan pasar.

Namun pemerintah Indoensia sudah turun tangan dengan melakukan semacam gerakan nasional untuk merevitalisasi bambu di Indonesia. Kedubes Indonesia di Belgia memulai dengan melaksanakan World Bamboo Congress pada tahun 2012. "Dubesnya, Arif Havas Oegroseno sendiri yang langsung menjadi penggeraknya," kata Desy.

Bambu Hitam
Kementrian Kehutanan mempunyai program penanaman bambu seluas 10 hektar di setiap Kabupaten se-Jawa dan Bali yang programnya dimulai tahun 2014. Kementrian Lingkungan Hidup menggalakkan penanaman bambu melalui kelompok-kelompok penggiat bambu, sedangkan Kementrian Perindustrian menggalakkan industri-industri bambu dan potensi besarnya bagi peluang usaha industri. Maka niscaya bambu sebagai alternatif bijak pengganti kayu bukanlah hal yang mustahil kelak.

Foto: Koleksi Pribadi





































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar