Jalan Braga, Riwayatmu Kini
Bangunan Tua di Braga |
Suatu sore, saat saya berjalan menyusuri Jalan Braga di kota Bandung, ingatan melayang ke masa kecil. Bapak (almarhum) saya senang sekali mengajak Ibu saya dan anak-anaknya berjalan-jalan ke kawasan terkenal ini di era tahun 1970-an.
Biasanya kami berjalan kaki menyusuri trotoarnya yang bersih dengan bangunan khas Belanda di kiri-kanannya. Tentu saja saya tidak ingat bangunan apa saja itu; usia saya masih sangat muda. Tetapi satu hal yang tidak pernah saya lupa adalah acara jalan-jalan kami selalu berakhir di Braga Permai, sebuah restoran paling bergengsi di Bandung saat itu.
Braga Permai |
Hawaiian Queen |
Saya ingat di dalam restoran juga ada kolam ikan yang cukup besar. Berjalan kesana kemari dan memandangi ikan-ikan di bawah kaki, seingat saya itu yang selalu saya lakukan sementara anggota keluarga lain menyantap hidangan.
Jalan Braga menjadi kenangan indah kembali saat sering menjadi pilihan saya dan sahabat untuk mengisi waktu di sela jam kuliah. Kami berdua menyusuri trotoar dan menikmati pemandangan di etalase toko-toko sepanjang jalannya.
Toko Buku DJAWA |
Renta... |
Dimakan tanaman |
Sejak itu saya juga menyukai arsitektur bangunan di sepanjang Jalan Braga. Saya selalu berkhayal dapat mengabadikannya suatu ketika. Kini, impian saya menjadi nyata. Kamera digital yang memiliki memori "tak terhingga" membuat saya bisa merekam kenangan-kenangan masa kecil.
Sibayak di pojok jalan |
Sayang, Braga kini sangat berbeda. Banyak bangunan tuanya yang sudah menghilang; lenyap dikalahkan jaman. Kalaupun masih berdiri, ia terlihat sangat renta; beberapa malah dibiarkan terlantar; ditumbuhi tanaman atau bahkan hanya menyisakan pintu gerbangnya.
Sumber Hidangan |
Untunglah masih ada yang bertahan, selain Braga Permai. Ada Toko Sibayak yang menjual suvenir khas dari berbagai daerah di Indonesia. Ia tetap kokoh berdiri di sebelah Braga Permai. Kini pemiliknya adalah anak dari pemilik sebelumnya; dan ia juga bertempat tinggal di bangunan indah itu. Saya selalu ingin tinggal di bangunan tua yang berlangit-langit tinggi semacam itu. Pasti udaranya dingin walau tidak menggunakan air conditioning ya....
Sumber Hidangan, restoran yang juga sejaman dengan Braga Permai, tetap bertahan. Sayangnya baik luar bangunan maupun kondisi dalam ruangannya sama rentanya. Peralatan tokonya pun tampak tua. Roti tawar yang terkenal dulu masih tetap nikmat, demikian pula kue-kue Belandanya. Kattetongen atau kue lidah kucing, sudah tergerus jaman: makin kecil dan menteganya berkurang.
Old & New Building |
Sugar Rush |
Braga Huis |
Ada pula Braga Huis, sebuah cafe untuk menikmati kopi. Dari luar bangunannya menarik dengan cat coklat berkesan suasana cowboy. Interior dalamnya pun terkesan nyaman, enak untuk leyeh-leyeh.
Asyik untuk ngopi |
Lukisan Braga Tempo Doeloe |
Selain untuk pejalan kaki, trotoar di Jalan Braga juga menjadi etalase penjual lukisan. Kalau ingin tahu tampang Braga jaman baheula bisa melihat lukisan-lukisan itu. Dulu, selain penjual lukisan ada juga pengamen terkenal yang selalu bernyanyi setiap malam disana. Nama aslinya entah siapa tapi ia terkenal dengan nama Braga Stone. Dia buta, tapi suaranya sangat merdu. Oh ya, dimana ya dia sekarang?
Menunggui Lukisan |
Menurut Wikipedia, awalnya Braga adalah sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik (Tjulik?) karena cukup rawan. Selain itu juga dikenal sebagai Jalan Pedati (Pedati Weg) karena sesuai peruntukannya yaitu untuk jalan pedati yang mengangkut kopi dari gudang kopi (Koffie Pakhuis) yang kini menjadi gedung Balai Kota; 1 km dari Jalan Raya Pos. Jalan setapak itu dulu lebarnya 10 meter dengan kondisi becek jika hujan.
Best Product |
Tahun 1870 menjadi tahun titik balik jalan itu menjadi kawasan elit. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak pengusaha terutama yang berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan.Toko kelontong de Vries, supermarket pertama, ikut menyumbang perkembangan Jalan Pedati menjadi Jalan Braga yang beken sebagai kawasan wisata elit. Petani Priangan (Preanger Planters) yang rata-rata berduit selalu membeli kebutuhan sehari-hari di toko itu.
Marco |
Maka ramailah daerah itu. Perlahan pembangunan hotel, restoran dan bank pun terjadi. Pada dasawarsa 1920-1930an muncul toko-toko dan butik pakaian yang mengambil model di kota Paris. Meski demikian tak ada data pasti kapan nama Braga dipakai menggantikan Pedati. Di jalan itu perlahan pedati pun ditinggalkan, berganti sepeda, sepeda motor hingga kendaraan roda empat.
Menjaga Kelestarian Braga
Graffiti |
Bayangkan, hanya pejalan kaki, pesepeda, becak, dan pemakai sepatu roda, inline skate, skate board atau egrang saja yang boleh melalui jalan ini. Udara semakin bersih, bangunan tidak semakin rusak karena asap kendaraan dan debu akibat jalanan setiap hari dicuci oleh mobil khusus, dan wisatawan semakin senang datang kesitu. Dampaknya? Pemasukan meningkat bagi pengusaha Braga dan kas pemerintah tentunya.
Tinggal kerendahan hati para pejabat pemkot Bandung dan penduduknya sajalah yang menjadi penentu kelanggengan riwayat Braga. Mau merawat kelestariannya atau perlahan-lahan mau mengubah semuanya menjadi bangunan modern yang --biasanya-- tidak menarik!
Catatan: Tulisan ini dibuat sebelum Ridwan Kamil diangkat menjadi Walikota Bandung.
Lulusan arsitek ITB ini kabarnya banyak membawa perubahan bagi kota Bandung, termasuk tempat-tempat hits semacam Braga. Bila ada kesempatan lebih lama menginap di Bandung, saya akan mengulas kondisi jalan Braga ini di era Ridwan Kamil. Bandung euy!
Komentar
Posting Komentar